Follow by Email

Sunday, December 25, 2011

La Tahzan For Teachers


Indonesia saat ini sangatlah membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Kemiskinan yang membludak menjadi bukti nyata bagaimana kurang mampunya anak bangsa dalam mengelola berlimpahnya kekayaan alam nusantara ini. Padahal manusia adalah sosok yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, surat Shaad: 26 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Pendidikan merupakan poin yang sangat berperan dalam pembentukan sumber daya manusia, baik dalam hal intelektual, emosional, dan spiritual. Dan sosok, selain orang tua, yang sangat berperan besar dalam menciptakan pendidikan yang berdaya guna adalah guru. Tak mudah menjadi seorang guru dengan berlimpah anak. Berbeda dengan orang tua yang ‘hanya’ menghadapi anaknya sendiri, seorang guru secara tidak langsung harus memperhatikan perkembangan dari anak muridnya yang berjumlah hingga puluhan orang.

Berbagai permasalahan yang tidak hanya menyangkut masalah fisik, tetapi juga kejiwaan, harus senantiasa diantisipasi dan ditangani oleh guru, dengan bekerjasama orang tua. Apalagi jika yang dihadapi oleh guru adalah anak murid yang menginjak usia remaja. Di mana usia tersebut ‘terkenal’ dengan masa-masa pemberontakan dan pencarian jati diri. Beragam karakter murid membuat penanganannya setiap masalah tidaklah sama, butuh tinjauan psikologi supaya dapat meminimalisir kesalahan dalam pengambilan tindakan.

La Tahzan For Teachers salah satu referensi yang layak untuk dibaca oleh guru, tak luput juga untuk orang tua. Banyak pelajaran yang dapat diserap dari berbagai kasus guru ketika berhadapan dengan berbagai karakter muridnya. Salah satu kasus yang menarik adalah adanya murid yang sangat hobi menyeletuk selama mata pelajaran berlangsung. Sebagian orang [guru_red] pasti akan menganggap bahwa dia seperti ini termasuk anak yang menjengkelkan dan layak diusir dari kelas. Namun, jika dianalisa lebih lanjut ada sebuah kecerdasan tersendiri yang sebenarnya tersimpan dalam kebiasaan yang kerap dinilai buruk ini.

“Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada manusia, maka ia telah mendapat pahala tujuh puluh orang shiddiq (orang yang benar dan membenarkan beliau seperti Abu Bakar As-Siddiq)”.

Derajad seorang guru di mata Islam pun sangat tinggi, bahkan Allah pun menjanjikan pahala yang begitu besar bagi siapapun yang mengajarkan ilmu bermanfaatnya dengan ikhlas. Hanya saja, sekiranya hal tersebut tidak membuat seorang guru menjadi jumawa dan merasa paling benar. Tidak hanya membahas mengenai permasalahan murid, dalam buku ini juga terdapat evaluasi-evaluasi bagi para guru. Merasa diri lebih benar seringkali terjangkit dalam diri orang yang berusia lebih tua, begitupun yang terjadi pada diri guru ketika menghadapi anak muridnya. Hal-hal senada itulah yang coba diulas dalam bab Rapor Seorang Guru. Sehingga pembenahan dapat dilakukan dari dua sisi, yaitu pendidik dan yang dididik.

Dalam buku ini semua kisah dijabarkan bersama dengan contoh-contoh kasus sekaligus analisa psikologi yang diuraikan dengan cukup mumpuni, mengingat dua penulis, Mbak Irmayanti yang berprofesi sebagai guru, dan Mbak Gita Lovusa, seorang lulusan pendidikan psikologi. So, sekiranya akan sangat bermanfaat jika buku ini menjadi bacaan wajib, terkhusus bagi para pendidik atau guru.

Judul : La Tahzan For Teachers
Penulis : Irmayanti & Gita Lovusa
Penyunting: Ratno Fadillah & Azzura Dayana
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Desember 2010
Tebal : 196 halaman

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → La Tahzan For Teachers

Perjuangan Muslim Patani


Sebagian besar dari umat muslim pasti tahu mengenai pergolakan di Palestina. Perebutan wilayah yang dilakukan secara paksa, sadis dan sporadis oleh Israel atas bumi Al-Aqsha. Beragam berita pun muncul dan memperlihatkan kekejaman Israel. Kesadisan dari si laknatullah ini mampu membangkitkan kesadaran moral dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Acara-acara penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina pun sempat membanjiri setiap daerah. Sayangnya, kegiatan seperti itu hanya berlangsung secara momentum.

Setiap kali ditanya wilayah muslim mana yang mengalami penindasan yang tiada berakhir, pasti kebanyakan orang akan menyebutkan nama Palestina. Ya, negara tersebut lah yang sering kali di-expose oleh media. Namun, kenalkan Anda dengan nama Patani? Atau Muslim Patani? Sebagian pasti akan mengerutkan kening, mencoba untuk menggali ingatan yang berkenaan dengan nama tersebut.

Konflik Muslim Patani memang sangat jarang diangkat oleh media. Padahal kondisinya tak jauh berbeda dengan rakyat Palestina, dimana bangsanya sedikit demi sedikit ingin dilenyapkan. Patani adalah sebuah wilayah di selatan Thailand yang mengalami penindasan dari penjajah Syam/Thailand. Dulunya, Patani merupakan wilayah kerajaan muslim yang merdeka, tapi kemudian muncul Perjanjian Bangkok yang berisikan pembagian wilayah kekuasaan antara Inggris dan Siam/ Thailand, dan Patani pun termasuk dalam kewenangan Siam.

Pemerintahan Thailand melakukan pembunuhan tidak hanya secara fisik, tetapi juga hampir ke semua aspek kehidupan, seperti pendidikan, sosial, sejarah, dan budaya. Penutupan berbagai pondok pesantren, penghapusan bahasa melayu yang digantikan bahasa siam pada mata pelajaran bahasa, melakukan asimilasi kebudayaan Siam ke tubuh Patani, penghapusan hukum pernikahan dan waris islami dalam permasalahan hukum, bahkan sejarah mulai dikaburkan dengan menyebutkan Patani termasuk bagian wilayah Thailand. Upaya-upaya inilah yang membuat rakyat Patani geram, hingga menimbulkan pemberontakan dari mereka.

Profesi penulis yang telah malang melintang di dunia jurnalistik dan adanya berbagai fakta yang pernah dilihatnya di lapangan membuat esai-esainya bernada bahasa lugas dan tegas. Penggambaran kondisi rakyat Patani pun terasa lebih nyata dengan adanya dukungan foto-foto yang cukup banyak terlampir dalam buku. Sayangnya, hampir sebagian foto tidak diberi keterangan lokasi atau kejadian.

Terdapat 17 esai yang disuguhkan ke dalam buku yang nyaman untuk dibawa-bawa ini. Hanya saja, bentuknya yang berupa kumpulan esai membuat kerunutan pembahasan tidak terjalin dengan baik dan terkesan morat-marit. Alangkah lebih bagusnya lagi jika pemaparan tentang Muslim Patani ini dibuat dengan subbab yang lebih runut, mulai dari sejarah awal Kerajaan Melayu Patani, masuknya ‘rezim’ Thailand, pemberontakan/perjuangan rakyat Patani, hingga tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Patani. Dengan kerunutan tersebut, pembahasan tentang Patani akan lebih jelas dan terstruktur, tidak bolak-balik dan loncat-loncat.

Terlepas dari kekurangannya, buku ini dapat dijadikan wacana awal bagi siapapun yang ingin peduli dengan perjuangan dari sesama muslim. Kita tak hanya harus peduli dengan penderitaan Palestina, karena ada negara tetangga yang juga membutuhkan bantuan dan doa kita, Melayu Patani.

Judul : Perjuangan Muslim Patani
Penulis : Herry Nurdi
Penyunting: Adhes Satria
Penerbit : Sabili Publishing
Terbit : Cetakan Pertama, 2010
Tebal : xiv+186 halaman
kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Perjuangan Muslim Patani

Happy Ramadhan With Kids


Masa kanak-kanak adalah masa paling produktif dimana mereka banyak sekali menyerap apa saja yang ada di sekitarnya. Kemampuan serap yang tinggi inilah yang seharusnya digunakan para orangtua untuk mulai memberikan berbagai pemahaman, tetapi haruslah dengan cara yang menyenangkan. Sebagian besar anak-anak pasti sangat suka jika diajak bermain atau melakukan hal yang membuat mereka tertarik dan berkreasi. Trik inilah yang sering kali digunakan para orang tua untuk memperkenalkan hal atau pemahaman yang baru, salah satunya Ramadhan.

Bagi umat muslim Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial. Melihat segala keistimewaannya, pastilah para orangtua menginginkan anak-anaknya berkenalan dengan bulan 1000 bulan ini. Tapi bagaimana caranya supaya para bocah cilik ini bisa tertarik? Banyak trik yang dibagikan para penulis dalam buku berjudul ‘Happy Ramadhan With Kids’.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, anak-anak sangat menyukai permainan. Salah satu permainan menarik yang dituangkan dalam buku ini adalah permainan detektif-detektifan ala Ellyza Dian agar Asha, putrinya, tertarik untuk be-Ramadhan dalam ‘30 Hari Menjadi Detektif’. Trik lain adalah dengan membuat berbagai prakarya menyambut datangnya Bulan Ramadhan seperti mempersiapkan poster-poster kreasi sendiri yang berisikan semangat Ramadhan, atau bisa juga dengan membuat kalender Ramadhan yang menyimpan hadiah-hadiah kecil di setiap harinya.

Prakarya yang menurut saya sangat menarik adalah membuat pohon Ramadhan dengan ukuran besar yang ditempeli banyak sekali permen yang bernomor 1 – 30 dan dapat diambil sebagai hadiah puasa sesuai dengan urutan hari dalam Ramadhan. Sudah pasti anak-anak akan sangat menyukai kala membuat ataupun melakukan rutinitas tersebut. Mungkin kita juga bisa menyelipkan hadist-hadist ringan untuk dibaca dan dibahas setiap harinya.

Memperkenalkan buah hati dengan Ramadhan saat berada di negeri bermayoritas Islam mungkin akan lebih mudah karena banyaknya dukungan dari lingkungan atau sekolah anak. Namun, bagaimana jika kita tinggal di negara, dimana Islam menjadi minoritas? Bukan hal mudah mengajak anak-anak berpuasa di Bulan Ramadhan. Hal ini tergambar pada beberapa kisah para ibu muslimah yang harus hidup di negara asing. Bagaimana ketika Ramadhan harus bersaing dengan keseruan perayaan Helloween? Bagaimana membuat Ramadhan menjadi indah di negara yang minim mengenal agama?

Walaupun ada beberapa kisah yang lebih fokus ke pendidikan anak dibandingkan Ramadhan, berbagai pengalaman para orangtua ini cukup menarik untuk dijadikan referensi dalam memancing sang buah hati untuk mencintai Ramadhan. Apalagi jelang bagian akhir, pembaca akan mendapatkan bab berjudul pernik lezat dan kreativitas. Di sana akan didapati berbagai kreasi makanan/cemilan dan prakarya yang dilengkapi dengan cara-cara pembuatannya.

Judul : Happy Ramadhan With Kids
Penulis : Gita Lovusa dkk
Penerbit : Pena Lectura
Terbit : Juni 2010
Tebal : 242 halaman

NB: Tengkyu buat Mbak Nopi… Akhirnya bisa baca sekaligus ngambil banyak ilmu dari buku ini ;)

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Happy Ramadhan With Kids

Muhammad, The Messenger


“Nyaris di buku pelajaran sejarah tak ada peristiwa, misalnya, bagaimana spirit Inggit Garnasih ketika membela habis-habisan Sukarno yang berusia muda, menyelundupkan buku-buku dalam penjara, dan kemudian dicampakkan. Atau kisah bagaimana Hatta terjebak dengan seorang perempuan cantik dalam sebuah jeep. Lalu jeepnya mogok di jalanan yang lengang. Sambil menunggu jeep dicarikan bensin oleh sang sopir, perempuan cantik dan Hatta duduk berjauhan. Hal-hal yang manusiawi seperti itu nyaris hilang dalam dimensi sejarah yang kita ketahui. Makanya sejarah itu bikin ngantuk. Isinya tanggal melulu. Periodesisasi melulu.”

Kaku. Itulah yang sering terkesan dalam sebuah buku sejarah. Seperti yang tertulis pada kutipan di atas yang diambil dari artikel berjudul Tiga Kesalahan Periset dalam Pengumpulan Sumber Sejarah. Kenyataan inilah yang kerap membuat orang malas untuk berkenalan dengan sejarah. Tidak adanya unsur dramatik atau manusiawi dalam sejarah, dan hanya berisikan bahasa formal dan data-data angka, menjadikan buku sejarah menjadi berat dan menjemukan.

Bukan kah sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai novel dan film, dimana unsur dramatik begitu sering mendominasi isi cerita? So, menurut saya tidak ada salahnya menyelipkan unsur tersebut dalam sebuah buku, dengan tetap memegang fakta sejarah yang terjadi di lapangan.

Seperti yang kita tahu bahwa sejarah tokoh besar bernama Muhammad, Sang Rasulullah sudah ditulis diberbagai buku. Bahkan tidak hanya berbentuk literatur, tetapi juga novel. Seperti baru-baru ini dimana Bentang Pustaka telah mengeluarkan novel sejarah dengan latar perjalanan hidup Muhammad yang ditulis oleh Tasaro.

Banyak sekali komentar positif atas munculnya buku berjudul Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan ini. Salah satunya, acungan jempol atas penggarapan sejarah kehidupan Rasulullah sehingga lebih mudah dicerna dibandingkan ketika harus membaca buku literatur tebal dengan tokoh yang sama. Sayangnya, dalam novel karya Tasaro ini, isinya tidak 100% berisikan tentang sejarah Rasulullah, tetapi diselingi dengan tokoh bernama Kashva. Bahkan menurut saya, porsi cerita Kashva lebih banyak dibandingkan Muhammad.

Muhammad The Messenger adalah sebuah buku literatur sejarah yang diceritakan dengan bahasa novel oleh Abdurrahman Asy Syarqawi. Berbeda dengan Lelaki Penggenggam Hujan, sejarah perjalanan sosok Muhammad dalam buku ini menjadi fokus utama dalam buku setebal 597 halaman ini, sejak beliau lahir hingga akhirnya wafat. Menariknya dari buku ini adalah gaya tutur dan penggambaran si penulis terhadap kepribadian Rasulullah. Di sini pembaca akan dihadapkan dengan sosok Rasulullah yang manusiawi, bukan lagi pria yang terlihat amat sangat sempurna seperti yang biasa dibaca dan didengarkan.

Penulis benar-benar menggenggam wanti-wanti terakhir ketika wafatnya Rasulullah bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang diberi kelebihan berupa perantara Sang Maha Agung, beliau hanyalah manusia biasa yang tidak layak untuk dituhankan. Berbekal hal tersebut, penulis mencoba menuturkan sikap dan sifat Rasulullah dengan senatural mungkin. Hal ini membuat pembaca lebih bisa melebur dengan sirah nabawiyah yang biasanya terkesan kaku.

Hanya saja, gaya bahasa Tasaro masih lebih indah dan dalam dibandingkan Abdurrahman Asy Syarqawi dalam memperkenalkan sosok Rasulullah. Selain itu, dalam buku ini juga tidak dijumpai daftar pustaka yang sekiranya menjadi landasan dari penulis dalam berkisah. Semoga dengan munculnya buku ini dapat menjadi penggerak para sejarahwan untuk menyampaikan sejarah dengan nuansa yang lebih nyaman. Dan akhirnya, Indonesia pun menjadi negeri yang mencintai sejarahnya.

Judul : Muhammad, The Messenger
Penulis : Abdurrahman Asy Syarqawi
Penerbit : Arkanleema
Terbit : Februari, 2010
Tebal : 596 halaman
Harga : Rp. 89.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Muhammad, The Messenger

Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui


Sebagian besar perempuan pasti menginginkan dari rahimnya lahir seorang anak yang kelak akan menjadi sosok yang soleh/solehah. Tidak hanya itu, seringkali muncul kebanggaan saat perempuan dapat memberikan keturunan. Hanya saja, tidak semua perempuan diberikan anugerah indah tersebut. Sehingga ketika seorang perempuan mendapatkannya, sudah selayaknya jika dia senantiasa bersyukur atas rahmad-Nya berupa kehamilan dan menyusui/ merawat anak.

Tak dipungkiri bahwa masa hamil dan menyusui merupakan tahapan hidup perempuan yang membutuhkan kesabaran yang tak terhingga. Terbayang bagaimana beratnya bunda menopang perut buncitnya hingga 9 bulan, terbayang juga bagaimana kesabaran dibutuhkan ketika seorang bunda berkomitmen memberikan ASI ekslusif selama 2 tahun kepada buah hatinya. Maka tidak salah jika Allah memberikan pahala syahid bagi bunda yang meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hatinya.

"Tidaklah menimpa kepayahan kepada seorang Muslim, sakit menahun, kesusahan, kesedihan, gangguan atau cedera hingga tertusuk duri kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya karenanya." [HR. Bukhari dan Muslim]

Janji Allah tidak akan pernah ingkar. Ya, sesuai dengan hadis tersebut tiada suatu kesusahan/ kesakitan sekecil apapun yang tidak mendapatkan imbalan, asalkan sang hamba berkenan untuk bersabar. Hamil dan menyusui memang melelahkan dan tidak mudah. Namun, semua akan menyenangkan jika para bunda mengetahui bahwa masa-masa tersebut menyimpan pundi-pundi pahala yang berlimpah.

Seorang bunda hamil pasti dituntut untuk selalu melakukan olahraga atau senam hamil agar janin dan ibunya terjaga kesehatannya. Upaya untuk menjaga kesehatan janin tak luput dari sarana mendapatkan pundi pahala karena saat itu bunda telah menunaikan salah satu hak janin, yaitu hak hidup. Gerakan olahraga yang kerap dianjurkan oleh orang tua, bahkan dokter/bidan adalah perbanyak sujud. Riset membuktikan bahwa sujud sangat bermanfaat bagi bunda hamil, terutama dalam mengatur posisi janin.

Rasulullah bersabda: “Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa di dalamnya,” [HR. Muslim] Dalam buku ini juga dipaparkan bagaimana mengatasi keguguran, cara mengurus bayi keguguran, dan pahala syahid pada bunda hamil.

Setelah melahirkan, masa-masa yang penuh anugerah berlanjut dengan menyusui, menyapih, dan mendidik buah hati. Pundi-pundi pahala pun semakin menggunung jika bunda dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Banyak ilmu yang bisa diambil. Irfan Supandi tidak hanya menuturkan tentang pahala yang dapat diraih seorang istri, tetapi juga sang suami di kala kekasihnya dalam kondisi hamil dan menyusui.

Judul : Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui
Penulis : Irfan Supandi
Penyunting : Farid Ikhsan Asbani
Penerbit : Pro U Media
Terbit : 2009
Tebal : 134 halaman
Harga : Rp. 18.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui

Dalam Dekapan Ukhuwah


“… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpun hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka …” [Al-Anfaal: 63]

Seperti yang terekam dalam buku ini, ukhuwah adalah rasa persaudaraan yang tidak terjalin karena darah, tetapi karena sebuah keyakinan dan keimanan. Ayat pembuka, yang juga menjadi pembuka dalam buku Dalam Dekapan Ukhuwah, adalah sebentuk penguatan bahwa kecintaan kepada Allah merupakan ikatan ukhuwah tererat bagi manusia. Tak dipungkiri bahwa ukhuwah menyimpan keindahan dan ketulusan yang tak terkira. Dari sana tercipta sebuah komunitas yang dapat saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Dua lebih baik dari satu, tiga lebih baik dari dua.

Namun, mengerjakan sesuatu atas dasar kecintaan pada Allah, pastinya tidak mudah. Akan selalu hadir rayuan maut para pecinta neraka demi tercorengnya keindahan ukhuwah. Seperti kata pepatah, mencari 1000 musuh lebih mudah daripada mencari satu orang sahabat. Gampang kan cari musuh? Tapi sangat sulit mendapatkan atau mempertahankan seorang sobat.

Menjalin sebuah ukhuwah tidaklah mudah, karena di sana manusia tidak bisa mendewakan keegoisan. Tidak bisa melihat segala sesuatu hanya dari kacamata pribadi. Terdapat orang lain yang harus dijaga, dihormati dan disayangi. Ada toleransi dan kesabaran yang sangat besar ketika sudah memutuskan untuk menjalin ukhuwah. Banyak, sangat banyak sekali yang akan datang untuk menguji sebuah ukhuwah. Lagi-lagi, bukankah segala bentuk perwujudan atas kecintaan kita kepada Allah, bukanlah sesuatu yang mudah?

Lewat ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ ini, Salim A Fillah memberikan berbagai gambaran dan permasalahan yang sangat mungkin terjadi dalam jalinan ukhuwah. Kesalahpahaman dalam memahami orang lain, tanpa sadar mengunggulkan diri sendiri, kekhilafan saat berkata-kata, kesabaran menghadapi kelicikan, memaafkan segala bentuk kesalahan, perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan masih banyak kisah sayatan sekaligus bunga ukhuwah yang dituturkan oleh sang penulis.

Saya sangat menyukai hampir setiap contoh kasus yang dipilih oleh penulis dalam menguatkan ilustrasi kejadian dalam tulisan. Seperti ketika penulis menuturkan tentang perihal kerendahan hati, beliau memilih kisah renungan tentang pemuda yang ‘dipermalukan’ di sebuah forum dengan bijak lebih memilih untuk mengalah, padahal saat itu sebenarnya dia mampu mematahkan berbagai argumentasi lawan bicaranya.

Atau ketika penulis menuturkan tentang perihal yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan contoh kasus pelayan yang menampar seorang pelanggan dengan kain serbet. Saya dibuat tertawa, tetapi juga termenung sedalam-dalamnya. Pas dan tepat. Penuturan penulis pun tidak terburu-buru, melainkan mengajak pembaca untuk memahami dengan meresapi dahulu apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.

Saya juga menyukai tulisan yang berkenaan dengan bagaimana seorang muslim harus dapat tetap berlembut hati tanpa harus meninggalkan ketegasan prinsip yang memang harus tetap digenggam. Bukan hal mudah kah? Ketika dimana-mana terdapat tuntutan toleransi yang kerap menggerus keyakinan dan keimanan manusia. Sebuah toleransi yang dibentuk dari kelihaian beberapa pihak dalam membuat pembenaran dengan membolak-balikan fakta, bahkan ayat/ hadist.

Hanya saja, saya tidak terlalu memahami tentang pembagian subbab dalam buku ini, karena menurut saya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh besar. Tapi, ya bisa jadi mungkin adanya subbab tersebut lebih berfungsi sebagai peredam kejenuhan/ istirahat bagi pembaca setelah bertemu dengan 60-an artikel dalam buku ini. Terlihat juga upaya tersebut lewat selipan beberapa puisi dan kutipan renungan dalam setiap subbabnya.

Oiya, satu lagi yang membuat saya salutkan pada penulis ini adalah caranya dalam menuliskan kisah sejarah, sebagai contoh kasus. Sungguh, saya merasakan bagaimana si penulis begitu menghayati sejarah kenabian dan para sahabatnya. Cara beliau dalam menuturkan sejarah kenabian terkesan luwes dan meninggalkan kekakuan bahasa literatur yang kerap terjadi ketika seorang penulis mengisahkan sejarah dalam tulisannya. Dengan gaya inilah, saya dapat menjadi lebih bisa merasakan dan meresapi kisah sejarah itu sendiri.

Saya juga menyukai sudut pandang penulis dalam menyoroti, tidak hanya sisi positif, tapi juga sisi negatif dari para sahabat Rasulullah, tanpa adanya niat menjatuhkan keunggulan dan keluhuran budi yang dimiliki mereka. Selain itu, membaca berbagai contoh kasus yang diambil dari sejarah kenabian menerbitkan kesadaran betapa masih kurangnya saya dalam membaca atau memahami sejarah Rasulullah dan para sahabatnya.

Judul : Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis : Salim A Fillah
Penerbit : Pro U Media
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2010
Tebal : 472 halaman
Harga : Rp. 60.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Dalam Dekapan Ukhuwah

Saat Berharga Untuk Anak Kita


Diberitahukan sebelumnya, isi review ini mengandung spoiler!

Salah satu hal penting dalam keluarga yang harus mendapat perhatian penuh adalah anak. Bahkan ketika dalam kondisi hamil seperti saya saat ini, kegelisahan atau ketakutan nantinya bagaimana akan membimbing anak, mulai bergentayangan dalam kepala. Bagaimana tidak, jika menengok perkembangan zaman yang semakin tidak mendukung pergaulan yang sehat, saya benar-benar dibuat ketar-ketir, hingga senantiasa melantun doa mohon ilmu agar dapat membimbing putra putri kami menjadi anak yang soleh dan solehah.

Ya, ilmu. Dibutuhkan kecerdikan dan tangkasan orang tua dalam mendidik sang buah hati, dan semuanya itu tidak bisa ditanggapi dengan hanya, “Ah, nanti juga bakalan belajar dengan sendirinya setelah memiliki anak.” Kalau sudah begitu, kecenderungan yang bakalan terjadi selanjutnya setelah memiliki anak adalah membiarkan tumbuh kembang mereka, dan kerap akan menanggapi sebuah “kesalahan” dengan nada, “Ah, masih kecil, nanti juga kalau sudah gede mengerti sendiri.” Padahal pribadi anak kelak sangat dipengaruhi bagaimana kehidupan dan kebiasaan mereka di masa kecil.

Dari sanalah, mulai terpikir untuk mencari ilmu sebanyak mungkin tentang dunia parenting. Mulai dari membaca blog-blog orang tua yang seringkali menceritakan bagaimana tingkah laku anak-anaknya, yang tidak jarang juga bagaimana trik mereka menangani sang buah hati. Atau bisa juga dengan membaca website parenting yang sering menyajikan berbagai hal yang berhubungan dengan pendidikan anak dan remaja. Saya tahu, bisa jadi nanti kasus saya – kalau diberi umur panjang – akan berbeda atau bahkan jauh berbeda dengan mereka, tetapi minimal saya mempunyai gambaran dan banyak referensi yang bisa dikreasikan ketika menghadapi anak.

Selain dari blog, sudah pasti referensi yang patut untuk dibaca adalah buku. Awalnya saya tidak terlalu berminat dengan buku ‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’ dikarenakan nama sang penulis. Pengalaman membaca buku ‘Kado Pernikahan Untuk Istriku’ yang pernah ditulis oleh Faudzil Adhim tidak terlalu bagus, hingga akhirnya buku tersebut tidak tuntas dibaca. Namun, karena berkali-kali masuk pesanan buku ini di toko buku online saya, mau tidak mau rasa tertarik muncul juga. Respon pembelian atas buku ini yang begitu besar, sukses membuat saya pun akhirnya penasaran dengan isi buku yang satu ini.

Banyak, memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari kumpulan esai dari Faudzil Adhim. Kemampuannya di dunia parenting memang sangat terasah, mengingat dirinya kerap menjadi trainer seminar bertemakan parenting. Namun sebagian besar tulisan beliau menurut saya masih mengawang-awang, tidak tahu apakah memang disengaja supaya pembaca bisa lebih banyak berpikir. Hanya saja, saya pribadi rasanya seperti tidak mendapatkan kemantapan setelah membaca. Pengalaman membaca buku sebelumnya, ternyata kembali muncul ketika membaca buku terbitan Pro U Media ini, yaitu penulisan yang agak berputar-putar. Pengulangan hadist seringkali membuat bosan. Mungkin niat sang penulis mengulang-ulangnya agar hadist tersebut lebih menancap di kepala pembaca, tapi akan lebih baik jika penulis bisa lebih kreatif dalam mengolahnya supaya lebih nikmat diserap kepala dan dibaca mata.

Terlepas dari itu semua, saya dapat merangkum poin-poin yang sangat berharga setelah membaca keseluruhan isi buku. Pertama, persiapkan anakmu untuk menjemput AKHIRAT, bukan dunia, hal inilah yang seringkali dilupakan para orangtua, terutama jika menyangkut masalah pendidikan, dimana para orangtua lebih mengutamakan IQ dan EQ, dam melupakan SQ. Para orangtua kerap ‘menyiksa’ anak dengan menuntutnya agar selalu mendapat nilai-nilai terbaik, raport tidak boleh ‘kebakaran’ dan masih banyak lagi, dengan alasan orangtua supaya masa depan si anak terjamin. Padahal jika orangtua mau memandang lebih jauh, bukankah anak soleh/solehah akan menjadi amal jariyah ketika mereka menghuni alam kubur?

Kedua, perhatikan hak anakmu, sebelum menuntut hakmu. Ini juga yang sering luput dari perhatian orangtua, yaitu kecenderungan untuk menuntut sang anak. Kerap orangtua ingin si anak patuh, menjalani kehidupannya seperti kehendak orangtua, atau orangtua merasa jumawa karena merasa telah membiayai dan merawat si anak. Orangtua sering menginginkan semua berada dibawah kendalinya, padahal tidak bisa begitu. Contohnya, ketika orangtua ingin suasana rumah sangat tenang, dan memarahi, bahkan menghardik si anak yang tidak bisa diam. Padahal bisa jadi si anak sedang mencari perhatian orangtua yang lebih peduli dengan pekerjaan atau aktivitas berselancarnya.

Ketiga, amalan ibadah orangtua berpengaruh pada karakter anak. “Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membaca kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua…” [h.238] Bagian inilah yang membuat ketakutan saya dalam mendidik anak menjadi teredam, bahwa upaya mendidik tidak hanya melalui sang anak tetapi juga dari diri kita sendiri. Seperti halnya doa. Semua pasti tahu bahwa doa orangtua adalah salah satu yang terijabah. Jika doa tersebut terus menerus dilantunkan dengan keikhlasan, maka bisa jadi itulah senjata yang akan membimbing sang anak menemukan jalan-Nya.

Tidak hanya doa, amalan sedekah ikhlas atau puasa rutin orangtua bisa jadi tanpa sadar menjadi sinar pencerah dalam jiwa sang anak hingga kelak dapat menjadi pribadi yang ahsan. Intinya, semua hal selalu kembali kepada-Nya, bahkan jika itu berurusan dengan mendidik anak.

Judul : Saat Berharga Untuk Anak Kita
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit : Pro U Media
Terbit : Cetakan kedua, April 2010
Tebal : 278 halaman
Harga: Rp. 36.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Saat Berharga Untuk Anak Kita

Bumi Cinta


Cukup lama juga saya menunda untuk membaca buku terbaru karya Habiburrahman el Shirazy ini, mengingat membaca buku-buku terdahulu, Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1, tidak meninggalkan kesan yang mempesona. Hanya saja, saya masih tetap bersikukuh untuk membacanya karena latar tempat cerita yang terbilang menarik, yaitu Rusia.

Bahkan pada awal-awal cerita saya sangat tertarik ketika membaca bahwa alasan Ayyas ke Rusia adalah untuk studi lapangan penelitiannya yang berjudul “Kehidupan Umat Islam di Masa Pemerintahan Stalin”. Wah, pembahasan sejarah memang selalu menarik bagi saya. Sempat juga terselip rekomendasi Imam Hasan Sadulayevna untuk melebarkan sedikit rumusan masalah ke masa Pemerintahan Lenin, yang memang masih erat berkaitan. Ternyata keinginan saya untuk lebih mengenal Rusia dan sejarahnya lewat novel ini tidak terlalu terpenuhi.

Sayang seribu sayang, sejarah yang menurut saya bakalan menjadi bobot dalam novel ini malah nyempil sedikit sekali di cerita. Sejarah ini hanya tersampaikan pada saat Ayyas sedang membaca buku di ruang Prof. Abraham Tomskii dengan gaya bahasa literatur, dan ketika saya membacanya seperti tidak membaca karya fiksi, karena saking kakunya cara penyampaian sejarah komunis di negara Rusia. Tidak ada sebuah diskusi yang sekiranya dapat saya nikmati antara Ayyas dengan dosen-dosen pembimbingnya.

Penjelasan tentang pembantaian yang dilakukan komunis pada masa Stalin dan Lenin, ternyata menggiring penulis untuk membahas tentang partai komunis yang juga pernah hidup di Indonesia. Hanya saja, penuturan tentang pembantai dan G30SPKI masih saya rasakan seperti membaca buku sejarah zaman SD, di mana Orde Baru masih mendoktrin kisah sejarah. Bahwa PKI adalah tokoh antagonis dalam sejarah, padahal sejauh pengetahuan saya, sejarah tentang PKI masih diselimuti ketidak-jelasan, apakah memang PKI pelaku segala pembantaian atau mereka hanya dijadikan kambing hitam atas segala intrik yang terjadi pada masa itu—CMIIW.

Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan kekonstanan Kang Abik dalam mengambil kisah percintaan dari novel satu ke novelnya yang lain, di mana tokoh prianya digandrungi banyak wanita. Namun, permasalahan yang mengusik adalah alur dan plot cerita menurut saya morat-marit dan terkesan mendoktrin pembaca. Adanya cerita yang melenceng dari alur juga membuat saya bosan, seperti penjelasan tentang Thifan Po Khan yang sama sekali tidak memiliki peran penting dalam cerita, ataupun tentang tari balet yang diambil dari cerita legendaris hasil karya Leo Tolstoy, sama sekali tidak memperlihatkan nantinya akan memiliki pengaruh besar untuk perjalanan kisah Ayyas. Hal-hal semacam itu seperti dahan pengganggu yang lebih cantik jika dipangkas saja.

Tidak berhenti di sana, alur dan plot cerita semakin tidak nyaman, setiap kali penulis menceritakan latar belakang tokoh, seperti pada tokoh Yelena dan Linor. Sebenarnya latar belakang kedua tokoh ini terbilang menarik, Yelena seorang pelacur sekaligus atheis yang dulunya pernah memeluk Islam dan Linor seorang agen Yahudi dan seorang wartawan ternama. Jika diceritakan dengan alur yang cantik dan tidak terburu-buru, hasilnya mungkin cerita akan lebih smooth.

Latar belakang Linor yang diceritakan dengan tumplek blek dalam satu bab penuh membuat kepala yang sebelumnya kosong tentang pribadi Linor, harus dipaksa menerima tumpahan sejarah hidup Linor dari awal sampai akhir. Jujur, hal ini sangat dan sangat menyebalkan buat saya, rasanya kepala ini tidak diijinkan untuk mengatur jalannya sendiri, tidak diperkenankan untuk merangkai kisah dalam buku ini secara alamiah. Capek? Pastinya!

Sama halnya dengan cara Ayyas dalam berdiskusi tentang masalah ketuhanan dan Islam, sama-sama membuat kepala capek. Gaya Ayyas cenderung menggurui dan jumawa, walaupun beberapa kali pada narasi dijelaskan Ayyas menghindari sifat sombong, tapi saat masuk ke bagian dialog saya tidak dapat menghindari kesan tersebut. Apalagi beberapa kali, Ayyas mengungkapkan kemarahannya dengan ucapan yang menurut saya kurang sopan.

Satu hal yang menjadi tanda tanya besar di kepala saya adalah rasanya Rusia dalam kisah Ayyas terlihat sangat bodoh—maaf. Sosok Doktor Anastasia Palazzo yang digambarkan sangat cerdas pun sama sekali tidak tampak cerdas. Hal ini saya simpulkan dari minimnya si Doktor cantik ini menyanggah atau menimpali penjelasan Ayyas tentang konsep ketuhanan. Anastasia seperti hanya bertanya dan menerima apapun penjelasan yang panjang lebar tersebut. Kondisi ini malah membuat cerita menjadi sangat aneh dan bertanya-tanya, “Apakah benar percakapan ini melibatkan dua orang yang katanya cerdas?”

Keanehan itu juga terjadi saat seorang ilmuwan Rusia yang sangat kondang, Viktor Murasov, dengan mudah ditumbangkan argumentasinya oleh Ayyas, TANPA ADA PERLAWANAN!! Hayo lah! Ayyas ini berhadapan dengan ilmuwan asal Rusia neh! Di mana dunia mengakui kecanggihan otak para ilmuwan negeri yang satu ini. Masa’ sih segitu mudahnya bisa bertekuk lutut, apakah ilmuwan Rusia memang se-cethek itu membuat sebuah argumentasi, sehingga sekali tebas langsung habis? Fyuh!

Satu hal lagi yang cukup mengenaskan dalam buku ini adalah berlimpahnya typo, padahal buku yang saya baca adalah cetakan kedua. Bagaimana dengan cetakan selanjutnya? Saya kurang tahu mungkin ada yang bisa menjawab? Hanya saja, yang pasti typo seperti pelengkap ketidak-nyamanan yang saya rasakan selama membaca buku setebal 546 halaman ini.

Yah, banyak sekali hal yang disayangkan dalam buku Bumi Cinta ini. Padahal menurut saya, secara garis besar ceritanya menarik, latar Rusia, penelitian tentang sejarah keislaman, konsep ketuhanan, pun ditambah tokoh seperti Yelena dan Linor harusnya membuat buku yang sangat spektakuler. Harusnya!

Namun terlepas dari segala kekurangannya, saya menyukai ending dari kisah buku ini, membuat saya sedikit bersyukur bersedia memaksakan diri untuk menamatkannya. Jika sebagian pembaca memandang akhir kisahnya menggantung, saya pribadi malah menganggap cerita ini memang layak berakhir dengan aroma dramatis. Uhuk! :p

Judul : Bumi Cinta
Penulis : Habiburrahman el Shirazy
Penerbit : Basmala
Terbit : 2010
Tebal : 546 halaman
Harga: Rp. 55.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Bumi Cinta

Mukjizat Gerakan Shalat


Shalat bagi umat Islam adalah bentuk ibadah yang tidak dapat ditawar lagi pelaksanaannya. Sebuah kewajiban no. 1 bahkan diyakini akan menjadi pertanyaan setelah syahadat saat manusia berada di alam kubur. Melihat betapa penting arti ibadah sholat, pastinya bukan tanpa sebab Alloh mewajibkan hambanya menunaikannya minimal 5 kali sehari. Karena seperti yang kita tahu, Alloh tidak pernah menciptakan sesuatu dalam kesia-siaan.

Banyak hikmah, banyak manfaat, banyak kebaikan yang insyaALLOH diberikan kepada orang yang senantiasa menjaga sholatnya. Tidak hanya memberikan manfaat bagi batin/ psikologis kita, tetapi sholat juga memberi kesehatan jasmani. Hal ini sangat erat hubungannya dengan gerakan yang dilakukan dalam sholat.

Mulai dari berdiri, rukuk, duduk, sujud, semuanya menyimpan makna yang tidak biasa. Bahkan setiap detail gerakan, seperti posisi kaki yang tegak saat duduk di antara dua sujud, atau lurusnya punggung ketika melakukan rukuk, atau gerakan mengangkat tangan ketika takbirotul ihram pun, kesemuanya memiliki khasiat tersendiri. Subhanalloh. Manfaat itulah, salah satu yang diungkap oleh Dr. Sagiran dalam buku ‘Mukjizat Gerakan Sholat’.

Sebagai seorang ahli bedah, beliau mencoba untuk memaparkan hubungan gerakan sholat dengan asupan oksigen dalam tubuh dan kerja pembuluh darah atau otot, sehingga nantinya akan memberikan manfaat bagi kesehatan badan. Salah satu penjelasan yang sangat menarik bagi saya adalah bentuk mulut saat mengucapkan lafadz "Alloh" yang ternyata juga memiliki hikmah berupa terapi psikologis dan kesehatan. Menarik bukan? Bahkan hal sesederhana itu ternyata menyimpan manfaat yang sangat besar.

Dr. Sagiran, adalah sosok yang bersedia menggunakan keahliannya untuk melakukan penelitian mendalam mengenai gerakan sholat. Salah satu hasilnya adalah terciptanya senam ergonomis yang mencakup enam macam gerakan, dengan posisi berdiri, kombinasi duduk dan sujud, dan merebahkan badan. Gerakan senam tidak hanya dijelaskan lewat tulisan, tetapi juga gambar. Melihat gambar gerakan yang sepertinya mudah, Saya sempat mempraktikan senam tersebut karena terjerat "iming-iming" bagus untuk ibu hamil hehe… tapi begitu dilakukan ternyata ngos-ngosan juga. Walaupun senam ini mengambil inti sari dari gerakan sholat, beliau selalu menekankan pada pembaca bahwa senam ergonomis bukanlah pengganti sholat.

Dari senam ergonomis, Dr. Sagiran juga memberikan metode pencegahan dengan mengaktifkan tombol-tombol kesehatan dan melancarkan aliran darah dengan cara pijat getar saraf. Titik pijat yang dijelaskan, sekaligus digambarkan ini, kurang lebih hampir sama dengan titik akupuntur. Hanya saja, saya pribadi, untuk mempraktikannya agak ngeri, takut salah pencet walaupun sudah diberi contoh lewat gambar. Selain itu ada beberapa titik pijat yang membutuhkan bimbingan bagi orang awam yang ingin menerapkannya dalam keseharian.

Salah satu pembahasan yang menjadi favorit--karena saya juga sering merasakannya—adalah mengenai malasnya bangun tidur atau merasakan pegal-pegal ketika bangun tidur. Dalam buku ini saya menemukan beberapa kesalahan adab tidur yang ternyata menjadi penyebab lesunya aktivitas bangun tidur. Sedikit melakukan praktik tips dari Dr. Sagiran, Alhamdulillah, walaupun terkadang masih ada rasa mengantuk, tetapi tidak separah dahulu.

Sayangnya dalam buku ini tidak mengulas tentang efek dari waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan bagi kesehatan. Sekira jika hal tersebut diungkap juga, mungkin bisa mengobati kecenderungan “mengakhirkan waktu sholat” yang diidap pada sebagian orang, termasuk saya. ^^v Adanya berbagai penjelasan dan analisa mukjizat dari gerakan sholat membuat setiap lembar dari buku ini sangat bermanfaat. Dan insyaALLOH membuat pembacanya dapat lebih menghayati setiap gerakan sholatnya.

Satu lagi pesan yang ditulis sejak lembar awal dari buku ini dan penting untuk direkam kepala adalah lakukan Lakukan sholat dengan tuma'ninah [tenang] dan resapi semua gerakannya.

Judul : Mukjizat Gerakan Shalat
Penulis : Dr. Sagiran, M.Kes., Sp.B
Penerbit : Qultum Media
Terbit : 2007
Tebal : 206 halaman

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Mukjizat Gerakan Shalat

Si Pitung, Superhero Betawi Asli


Siapa yang tidak kenal Si Pitung??? Jika ada yang mengacungkan tangan, kemungkinan besar adalah para remaja era sekarang yang tidak diperkenalkan sang legenda betawi yang terkenal jago bela diri ini. Dahulu saya masih berkesempatan mengenal sosok pitung lewat layar kaca dalam bentuk film silat, kala itu bintang yang sering memerankannya adalah almarhum Dicky Zulkarnaen. Saya pribadi tidak terlalu ingat jelas tentang detail cerita, hanya sekadar mengingat kostum khas Si Pitung yaitu peci, baju plus celana longgar, sabuk gede, dan tidak ketinggalan golok.
Sayangnya, sepanjang ingatan saya, belum pernah dijumpai, baik film ataupun buku, yang menceritakan masa kecil dari si Pitung. Hingga kemudian, saya mendapatkan novel anak terbitan DAR! Mizan yang berjudul “Si Pitung, Superhero Betawi Asli”. Rasa yang pertama kali terbangun ketika menemukan buku ini adalah nostalgia.

Walaupun kisah pendekar asal Betawi ini sendiri masih belum jelas apakah berdasar kenyataan atau hanya sekadar mitos, namun Pitung seperti telah melekat pada masyarakat Betawi sebagai pembela rakyat kecil. Bisa dibilang Pitung adalah Robin Hood-nya Betawi. Seperti halnya Robin Hood, di sini Pitung juga sering mencuri harta pada orang-orang kaya yang kerap mengumpulkan kekayaannya dengan menindas rakyat, kemudian hasil curian akan dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Ditambah lagi dengan sosoknya yang sangat berani melawan penjajah Belanda dan membela rakyat kecil, membuatnya menjadi idola anak-anak.

Bapak Soekanto mencoba mengisahkan keberanian, ketaqwaan dan jiwa kemanusiaan si Pitung mulai dari ketika dia masih kecil, kurang lebih 10 tahun-an.

Kullu nafsin dzaa'iqatul maut
Semua yang bernafas akan kembali kepada Tuhannya


Ayat inilah yang berulang kali ditegaskan penulis dalam diri sosok Pitung. Bagaimana pun hebatnya, atau saktinya seseorang tidak akan pernah lepas dengan yang namanya kematian. Karena mati hanya sekali, maka hidup harus lah selalu memberikan manfaat bagi sekitarnya. Makna ayat tersebutlah yang kemudian digunakan sang penulis untuk membangun karakter Pitung hingga menjadi pria pemberani sekaligus berakhlak.

Saya suka sekali dengan cara penulis menyelipkan pesan-pesan yang pastinya akan sangat mudah diserap oleh kepala anak-anak. Seperti pesan Haji Naipin (guru Pitung) ketika Pitung buru-buru beranjak setelah shalat jama’ah, “Tot, jangan mau lari saja kalau selesai shalat ya! …. Coba kau pikir, kita shalat berarti kita sedang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Kaupikir, pantaskah begitu shalat selesai, kita lari membelakangi-Nya?” [h.28] Sungguh, sebuah pesan yang tidak hanya mengena bagi anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Alur cerita berjalan maju, hingga Pitung dewasa. Hanya saja agak terjadi kebingungan dengan bertambahnya usia Pitung. Karena tidak ada penjelasan atau siratan dalam cerita tentang pertambahan usia tokoh, saya kerap baru menyadari ketika cerita sudah berjalan lumayan jauh atau saat melihat ilustrasi buku, “Ooohh… si Pitungnya udah gede to.”

Dari cara Pak Soekanto bercerita, dari pesan-pesan yang disampaikan, dari penyampaian yang tidak menggurui, membuat buku ini layak untuk dijadikan bacaan anak-anak.

Di Balik Buku Si Pitung, Superhero Betawi Asli


Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal sosok Bapak Soekanto SA, sosok yang baru saya ketahui sangat lekat dengan nama majalah si Kuncung. Era saya kecil, Kuncung bukanlah majalah yang memenuhi bacaan saya, karena pada saat itu Mentari dan Bobo-lah yang seringkali menemani keseharian. Saat tuntas membaca buku si Pitung ini, mata saya tertuju pada foto profil penulis. Terlihat sosok pria sepuh yang sangat sederhana. Subhanallah, dengan usia yang telah memasuki 76 tahun, ternyata produktivitas beliau tidak ikut rapuh.

Dari membaca novel si Pitung ini, saya tahu bahwa penulisnya memang sangat mengenal dan mendalami dunia anak. Terlihat dari cara beliau menggambarkan si Pitung kecil dengan sifat khas anak laki-laki yang sering merasa dirinya pemberani dan ingin sekali menjadi jagoan. Setiap kali gurunya akan mengajarkan sesuatu, Pitung dengan sombong akan berujar, “Saya pasti bisa.” Gambaran-gambaran kuat karakter tokoh lah yang membuat cerita menjadi lebih bersemangat.

Bapak sembilan anak ini, mulai aktif menulis dan mengamati perkembangan bacaan anak sejak tahun 1950-an. Bersama Sudjati SA, beliau bekerja sama membangun majalah si Kuncung sebagai penulis sekaligus editor. Dedikasinya pada dunia anak, membuatnya dianugerahi berbagai penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri.

Judul : Si Pitung, Superhero Betawi Asli
Penulis : Soekanto SA
Penerbit : DAR! Mizan
Terbit : Februari 2009
Tebal : 154 halaman
Harga: Rp. 24.000 [disc. 15%]

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Si Pitung, Superhero Betawi Asli

Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami


Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Istri Solehah.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagian besar dari kita pasti tahu perihal hadist yang satu ini, bahkan banyak pula yang mendambakan untuk mendapatkan (bagi laki-laki) dan menjadi (bagi perempuan) wanita solehah. Namun, satu hal yang pasti, untuk meraih ridho Allah bukanlah sesuatu yang mudah, walaupun bukan berarti tidak bisa.

Seringkali ketika dihadapkan dengan buku atau pembahasan tentang wanita solelah, pasti akan disuguhkan cerita tauladan dari kaum wanita di zaman Rasulullah. Siapa yang tidak tahu totalitas seorang Bunda Khadijah ra. dalam mendampingi Rasulullah? Siapa yang tidak kenal kedermawanan dan pengabdian Fatimah Az-Zahra ra.? Sungguh, mereka adalah sebaik-baiknya tauladan.

Namun, apakah mereka dengan sendirinya dapat menjadi wanita solehah dengan begitu mudahnya? Tidak! Mereka pun membutuhkan proses hingga kemudian menjadikan mereka sebagai sosok ahli surga. Masih ingat kan bagaimana Fatimah ra. pernah merasakan kelelahan yang sangat dalam pekerjaan rumah tangganya, hingga kemudian meminta Rasulullah untuk memberinya hamba sahaya? Terlihat kan, bahwa sosok sekaliber Fatimah Az-Zahra pun ternyata pernah ‘mengeluh’, Bagaimana dengan kita?

Kesimpulannya, kita semakin tahu bahwa manusia yang tidak selalu dalam kondisi kuat, bahkan cenderung labil dan ‘mengeluh’. Manusia selalu membutuhkan dorongan dan semangat, dari sinilah peran sekitar menjadi sangatlah, seperti halnya Rasulullah yang kala itu tidak memberikan ‘kenyamanan’ berupa hamba sahaya kepada Fatimah. “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Jika berbicara teori tentang wanita solehah, maka dengan mudah kepala akan mencerna. Namun, ketika terjun di realita kehidupan, teori dapat dengan mudah bertekuk lutut ketika pemahaman dan pendampingan tidak didapatkan oleh sang wanita. Seperti yang disampaikan dalam buku ini, “Teori tentang keimanan kadang lebih mudah dicerna daripada keimanan yang sebenarnya. Indikasi ketaqwaan juga lebih bisa dijelaskan secara teoritis daripada ketaqwaan yang sebenarnya. Inilah yang sering menimpa pada kebanyakan orang” [h. 105]

Dari sana kurang lebih dapat ditangkap, bahwa peraihan seorang wanita menjadi solehah harus juga mendapatkan dorongan, ingatan, dan bimbingan dari orang lain, terutama orang terdekat seperti suami. Suami tidak pantas menuntut istrinya menjadi wanita solehah, jika dia sendiri tak mampu atau malah tidak ‘mengajak’ dirinya menjadi soleh.

Seperti halnya ketika seorang pria bercita-cita mendapatkan pasangan hidup yang solehah. Tidak salah sih, tapi alangkah lebih indah jika sang pria tersebut meniatkan diri menikah dengan wanita untuk membantunya menjadi solehah? Atau bahkan menggandengnya untuk sama-sama berusaha menjadi hamba yang soleh dan solehah? Sungguh, hal tersebut akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih indah, karena adanya kesamaan niat belajar dan tidak adanya tuntutan yang sepihak.

Inilah yang melatar belakangi terbitnya paket buku ‘Be a Great Couple’, yang berisikan dua buku berjudul, ‘Be a Great Husband’ dan ‘Be a Great Wife’. Pasangan buku yang ‘mengajak’ suami-istri untuk belajar bersama, mencerna ilmu, dan kemudian mengamalkannya bersama. Karena saya seorang perempuan, ‘Be a Great Wife’ tentu menjadi pilihan pertama untuk ditekuni—walaupun nanti insyaALLAH juga berkeinginan membaca ‘Be a Great Husband’.

Jika dilihat dari ketebalannya, buku ini termasuk tipis –berdasarkan standarisasi saya—tapi ternyata untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Sepanjang membaca saya membutuhkan jeda beberapa kali untuk meresapi apa yang disampaikan penulis. Mencoba membandingkan antara realitas dengan keidealisan dalam buku ini.

Lumayan berat juga, seperti ketika istri diharapkan senantiasa berdandan dan terlihat cantik di hadapan suami, ternyata ketika berhadapkan dengan realita dan segala kepadatan pekerjaan ternyata masalah dandan/ selalu terlihat cantik—yang kelihatannya sepele---terasa berat. Akhirnya, saya pun melakukan sedikit toleransi dengan hal tersebut, yaitu menggantikan/ mem-‘pending’ dandan dengan berusaha tetap tersenyum ketika berhadapan dengan suami.

Hal-hal seperti itu membuat saya terpancing untuk menikmati pergulatan daya nalar dengan teori ‘menjadi wanita solehah’ dalam buku ini, sekaligus membuatnya menjadi sesuatu yang menarik. Walaupun tetap dengan batas-batas tertentu dan tidak meringan-ringankan hal yang sudah menjadi ketetapan, seperti pemakaian jilbab.

Terlepas dari kemenarikan dan kenikmatan saya berpikir, buku ini tidak lepas dari kekurangan. Walaupun penulis telah membagi pembahasannya menjadi 20 subbab—atau istilah dalam buku ini 20 karakter, ternyata tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada isi masing-masing subbab. Hal ini terkadang menciptakan kebosanan.

Selain membahas karakter wanita solehah, dalam buku ini juga terdapat bab yang menyindir sedikit tentang bagaimana seorang pria dalam rumah tangga. Ditambah lagi, bab yang berisikan tanya-jawab para istri yang ‘mengeluh’ tentang kondisi suaminya. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya ‘menuntut’ istri menjadi solehah, tetapi juga memperhatikan kesolehan suami.

Kehidupan adalah tidur, kematian adalah bangun tidur, sementara manusia berada di antaranya bagaikan khayalan” [h. 136]

Judul : Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami
Penulis : ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif
Penerbit : Embun Publishing
Terbit : Juni 2007
Tebal : 184 halaman
Harga: Rp. 40.000 [disc. 20%]

NB: Tengkyu untuk Mbak Wulan yang sudah menghadiahkannya pada momen pernikahan kami. Loph You! ^^

kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami

Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon

“Senjata Suad Amiry adalah ironi dan ia mengemasnya dengan sangat cerdas dan handal…” Figaro

Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya siapa atau apa Figaro yang memberikan endors dengan begitu pasnya terhadap autobiografi ini. Setelah melakukan googling, dan bertemu dengan tante Wiki [liat di http://en.wikipedia.org/wiki/Figaro], saya menemukan beberapa “pengguna” nama ini, mulai dari judul lagu yang dipopulerkan Brotherhood of Man—sapa neh??--nama kerajaan dalam video game Final Fantasy VI sampai nama tokoh anak kucing teman Pinokio hasil ciptaan Walt Disney. Dari sekian “pengguna”, hanya satu yang paling berpotensi memberi endors dalam buku ini—karena akan sangat aneh jika anak kucing sampai memberikan endors. Figaro, nama pena dari penulis Spanyol bernama Mariano José de Larra, tetapi kemungkinan tersebut harus segera tersisih setelah membaca bahwa dia telah meninggal 1837. Well, akhirnya, setelah berseluncur ke mana-mana, hasil buruanku berujung pada Jay Heinrichs seorang penulis dan editor dengan segudang pengalaman yang membuat endors-nya memang layak dipampang di sampul depan sebuah buku [liat di http://www.figarospeech.com/whos-figaro/]. Dan semoga benar adanya, Figaro yang saya cari adalah dia, supaya kepala dapat terpuaskan.

Kalau saya cukup puas dengan perburuanku atas Figaro, tidak sama halnya dengan Suad Amiry yang terus memburu Israel lewat sindirannya yang sangat tajam.



Bajingan, kataku dalam hati. Begitu mudahnya tersinggung oleh sebuah tatapan!

Aku heran bagaimana reaksimu jika hidup di bawah Pendudukan selama bertahun-tahun…., atau jika hak belanjamu, seperti semua hak-hakmu diganggu…., atau pohon-pohon zaitun di perkebunan milik kakekmu ditumbangkan, atau desamu diratakan, atau jika rumahmu dihancurkan…, atau jika ibumu melahirkan di pos pemeriksaan…, atau jika kau tidak bisa menjangkau orang yang kau kasihi di Yerusalem di sebelah Arab bagian Timur.

Hanya sebuah tatapan, dan kalian kehilangan kesabaran! [hal 49-50]

Sengketa di Jalur Gaza memang ironi yang sangat menyedihkan. Tanpa berputar-putar dengan teori, perempuan lulusan arsitektur ini mengkritik dengan cerdas kearoganan Israel lewat kejelian matanya menangkap setiap detail keseharian dan lingkungannya. Dengan gaya blak-blakan, cuek, lugas dan satire yang cukup kejam, buku yang bersumber dari diary dan email ini menceritakan tentang kondisi Ramallah yang sudah tak patut disebut sebagai kota, tentang kegilaan saat harus berlomba-lomba sampai di rumah sebelum jam malam tiba, tentang antrian panjang demi mendapatkan ijin kerja, kunjungan atau perjalanan, tentang ujung senapan tentara Israel yang siap menghancurkan kepala siapapun, tentang kepedihannya atas negeri tercintanya yang telah dirampas paksa.

Pun dengan sinisnya penulis yang juga direktur RIWAQ—Pusat Konservasi Arsitektur di Ramallah--menyindir bagaimana orang Palestina membutuhkan puluhan tahun untuk mendapatkan hawiyyeh (kartu penduduk) sedangkan seekor anjing bisa memperoleh paspor hanya dalam sehari demi mendapatkan suntikan vaksin rabies.

“Tidak, tembok bodoh ini tidak ada kaitannya dengan keamanan Israel. Perhatikanlah. Tembok ini tidak memisahkan orang Palestina dan Israel, malah justru memisahkan orang Palestina dan negeri Palestina…..Ini adalah perampasan tanah dan air terbesar dalam sejarah Israel. Sementara mengklaim untuk memisahkan diri dari kami, mereka telah mengambil tanah kami hingga 55%. Kalian menyebut ini keamanan?” Aku sadar sedang meneriaki Bob Simon. Aku rasa dia menyesal telah memilih seorang perempuan setengah baya yang sudah menopause untuk berbicara soal “Pemisahan” [hal 139]

Judul Buku : Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon
Penulis: Suad Amiry
Alih Bahasa: James Dumai
Penerbit: e-Nusantara
Terbit: Pertama, September 2008
Tebal Buku: 144 halaman
ISBN: 9791583692
Harga: Rp. 35.000 [sebelum diskon 15%]
Readmore → Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon

Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya

Sebagaimana bagian tubuh yang lain, hati juga dapat merasakan sakit. Bukan hanya penyakit secara fisik, tetapi juga penyakit “hati” yang bersifat ruh. Milati, gadis yatim piatu yang menjadi pengasuh di Yayasan Panti Asuhan dan Pesantren Anak Manba’ul Ulum, juga terjangkit penyakit “hati” ketika perjumpaannya dengan Misas, putra dari sang Kyai pemilik pesantren, menimbulkan desir-desir dalam kalbunya. Muncullah penyakit “hati” yang menggerogoti sosok insan dengan mengatasnamakan cinta. Tidak dipungkiri bahwasanya cinta adalah setitik rahmat dan kasih sayangNya, tetapi ketika setan mulai menyelisip di dalamnya tak ayal cinta pun menjelma sebentuk ujian untuk kembali mempertanyakan seberapa besar cinta kepadaNya mengalahkan cinta pada makhlukNya. Dan Milati merasakan ujian cinta mulai menyesakkan jiwanya.

Sulit mengobati penyakit “hati” berbentuk cinta yang seringkali membutakan korbannya, yang ternyata justru memiliki pengaruh yang lebih destruktif dibandingkan penyakit fisik. Misas, lelaki lulusan universitas Yaman mendapat ujian ketaqwaan dari dahsyatnya virus yang melanda hatinya. Berbeda dengan Milati yang lebih bisa mengendalikan hatinya, Misas cenderung reaktif dengan melontarkan SMS-SMS bernada rindu bahkan mengambil keputusan yang berujung dengan terkaparnya Misas di kamar sebuah rumah sakit. Cinta yang melontarkan zalzalah bagi jiwanya.

Ujian demi ujian diberikan sang Penguasa demi melihat tingkat ketaqwaan hambaNya. Amarah Misas terhadap kemunafikan Milati membuatnya mengambil keputusan dengan membuka gerbang pernikahan bersama wanita lain. Akhirnya, Misas menyetujui perjodohannya dengan Hurin. Namun, gadis yang juga seorang hafidzoh ini memiliki cacat yang membuatnya kesulitan untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kebutaan yang didapat Hurin sedari kecil menyulitkannya untuk melakukan keseharian, hingga sekali lagi Allah menguji kedua umatNya yang pernah ditautkan asmara, dengan kembali menempatkan Milati dalam satu atap dengan tambatan hatinya.

Di antara cinta segitiga yang dipenuhi dengan metafora, penulis menyelipkan juga perasaan Syaqip terhadap Milati. Sekali lagi lewat cerita Milati dan Syaqib, kita diingatkan bahwa persahabatan lawan jenis tidak lah pernah berjalan dengan mulus dan tulus, karena perasaan kerap menjadi lebih berkuasa. Hal inilah yang menimpa Syaqip, pria yang telah menemani Milati sejak kecil hingga beranjak dewasa. Syaqib, pria yang telah menjadi sahabat Milati harus terus menenangkan gejolak hatinya lewat munajabnya di setiap malam.

Cinta. Zalzalah. Ikhlas.

Ketiga unsur inilah yang menjadi pembangun kokoh dalam buku yang hampir keseluruhannya berkisah tentang kemelut cinta. Namun di samping itu, penulis juga memberikan gambaran tentang kehidupan dan keseharian dalam dunia pesantren yang tidak melulu diliputi keseriusan tetapi juga menguak keisengan dan kenakalan bocah-bocah penghuni setiap barak.

Banyak kelebihan tetapi juga tidak membuatnya luput dari segala kelemahan. Begitu juga yang terjadi dalam buku berjudul Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya. Bahasa puitis yang bertebaran dalam buku terbitan Semesta ini memang membuat cerita menjadi lebih indah dan romantis, hanya saja kebiasaan ini sering membuat penulis melebar ke luar topik. Selain itu juga penulis kerap lepas kontrol dengan memberlakukan kalimat puitisnya kepada sebagian besar lakon, sehingga karakter tokoh sulit untuk dibedakan.

Manusia adalah makhluk yang tak akan pernah luput dengan masalah. Semakin tinggi tingkat ketaqwaan seseorang, maka bentuk ujian yang didatangkan oleh-Nya pun semakin berat. Bersenjatakan ikhlas dan sabar lah setiap insan pasti akan mampu melewati segala ujian-Nya yang tak ayal merupakan bentuk dari kasih sayangNya.

Judul : Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya
Penulis : Mashdar Z
Penyunting : Farid Ikhsan Asbani
Penerbit : Semesta
Tahun : 2009
Genre : Romantis
Tebal : 325 halaman
ISBN : 979-25-7412-3

kunjungi : http://wisata-buku.com

Readmore → Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya

Kemboja Terkulai di Pangkuan


Beberapa hari yang lalu, saudara saya yang berprofesi sebagai perias pengantin mendapat dua pekerjaan merias pada hari yang sama, dan keduanya calon mempelai wanitanya dalam kondisi sudah hamil. Realita yang ada saat ini, begitu mengetahui putrinya dalam kondisi hamil, sebagian besar orangtua pasti mengambil keputusan untuk segera mencari “pelaku” untuk segera dinikahkan, agar terhindar dari malu.

Fenomena tersebut diangkat oleh Irwan Kelana pada cerpennya yang berjudul Kemboja Terkulai di Pangkuan. Berbeda dengan orangtua yang lain, Haji Abdullah, nama tokoh ayah, tidak bersedia menikahkan putrinya dalam kondisi hamil. Bahkan di saat sang laki-laki bersedia bertanggung jawab, beliau malah mengusirnya.

Bingung, mencibir, memaki, itulah yang menjadi respon masyarakat melihat kekerasan hati Haji Abdullah. Namun, semua itu sama sekali tidak membuat keputusannya berubah, bahkan bujuk rayu dan permohonan sang istri sama sekali tidak dihiraukan. Keputusan tetap bulat: Tidak menikahkan Iffah, putrinya. Keputusannya didasari oleh keyakinannya, bahwa haram menikahkan putra/putri dalam kondisi hamil [penulis mengambil nasab Imam Malikiyah dan Hanafiyah]. Hanya satu yang digenggam oleh Haji Abdullah, ‘lebih baik malu kepada manusia, daripada malu di hadapan Allah’

Luar biasanya, walaupun dalam kondisi sedih dan marah, ternyata tidak melunturkan kasih sayangnya. Haji Abdullah masih tetap memperhatikan kondisi putrinya dan setia mengantarnya memeriksakan kehamilan dari bulan ke bulan.

Kemboja Terkulai di Pangkuan, adalah cerpen pembuka pada buku kumpulan cerpen dengan judul sama. Lembut, itu yang saya rasakan saat membaca tulisan dari Irwan Kelana. Walaupun, sosok pria yang kerap diangkatnya berkarakter keras dan sangar, tetapi sangat melindungi tokoh perempuannya. Bisa jadi sifat pelindung ini muncul pada jiwa setiap tokoh laki-laki karena didasari latar profesi dari si penulis.

Profesi wartawan banyak digunakan sebagai latar tokoh, dikarenakan si penulis sendiri pernah mengalami lika-liku hidup sebagai wartawan Republika. Pekerjaan yang menguras waktu dan menuntut untuk selalu standby di ‘jalanan’ membuat momen bersama keluarga semakin minim. Hal ini membuat sosok perempuan/ istri yang bersedia mendampingi seorang wartawan menjadi sangat spesial.

Menanti suami hingga larut malam, demi untuk sekadar membukakan pintu dan kemudian membuatkan wedang jahe atau rendaman air garam hangat supaya kaki sang suami terasa lebih nyaman, menjadi wujud kesetiaan dan ketelatenan sosok wanita yang tersurat. Kondisi inilah yang mungkin menjadi inspirasi hampir di sebagian besar cerpen, KESETIAAN.

Tidak hanya bercerita tentang kehidupan rumah tangga, tapi kumcer ini juga memaut tentang kebimbangan. Masih dengan profesi yang tidak memiliki jam kerja tetap ini, tertulis juga cerita tentang tentang kehidupan lajang. Di beberapa cerita terlihat usia tokoh utama laki-lakinya yang berkisar mendekati 40-an. Hal ini terjadi karena ketakutan mereka akan ketidak-pastian, resiko pekerjaan yang sangat mungkin menuai kematian, yang nantinya akan berdampak pada sang pasangan.

Dengan gayanya yang romantis, Irwan Kelana menghadirkan banyak cerita yang bernuansa cinta antar laki-laki dan perempuan. Di beberapa cerpen akan ditemui alur cerita yang hampir mirip, walaupun terselip konflik yang berbeda, seperti seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama, terpesona, kemudian berusaha mencari tahu dan berusaha meraih perempuannya dengan cara yang sangat ‘hati-hati’.

Walaupun berhamburan cerita cinta laki-laki dan perempuan, terdapat juga cerpen berjudul Kondangan yang sarat makna. Cerpen yang satu ini memiliki tema yang sangat sederhana, yaitu pergi kondangan, di mana seorang ibu selalu meminta anaknya untuk memenuhi undangan apapun yang didapatnya dari warga desa. Bahkan lucunya, walaupun undangan telah lewat 3 bulan, sang ibu masih terus menelepon putranya, demi mengingatkan untuk datang kondangan. “Malu kalau nanti ketemu di jalan, nanti dikira tidak menghormati’ inilah yang selalu dikatakan si Ibu. Tak jarang si Ibu juga menanyakan berapa isi amplop yang akan diberikan putranya. Cerewet? Memang, tapi di balik kecerewetannya ternyata tersimpan sebuah pesan yang mungkin, saat ini sudah mulai terlupakan.

Setelah menekuni kumpulan cerpen ini, jujur saya lebih menikmati cerpen Kemboja, Kondangan, dan Musholla di Halaman Rumah. Tiga cerpen yang sedikit keluar ‘jalur cerita cinta pasangan’ ini, ternyata lebih meninggalkan ‘bekas’. Bisa jadi, karena saya bukan fans dari cerita-cerita yang berbau romantis. Atau bisa juga menjadi salah satu pertanda bahwa sesuatu yang lain-daripada-yang-lain memang selalu menarik?

Selain unsur lain-daripada-yang-lain, ketiga cerpen ini lebih enak dinikmati, karena alurnya yang tidak terburu-buru jika dibanding dengan cerpen yang lain. Kesan terburu-buru ini sering tertangkap dari banyaknya potongan sketsa cerita yang seperti memotong alur supaya lebih cepat sampai pada akhir cerita. Namun, bagi pembaca yang memiliki jiwa penulis dan berkarya pasti akan dapat mengambil peluang atau inspirasi untuk mengembangkan alur hampir di setiap cerita.

Terlepas dari segala kekurangannya, unsur romantisme yang menapak jelas hampir di seluruh cerita ini pasti akan digandrungi para pecinta buku ber-genre romantis. Irwan Kelana selalu berhasil menciptakan suasana romantis dalam cerpen lewat deskripsi suasana atau dialog-dialog guyon, menggoda sang pasangan, namun tidak kelewat batas.

Judul : Kemboja Terkulai di Pangkuan
Penulis : Irwan Kelana
Penerbit : Bening Publishing
Terbit : Mei 2005
Tebal : 215 halaman
ISBN: 9792647791
Harga: Rp. 25.000


kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Kemboja Terkulai di Pangkuan

Tawa Ala Rasulullah

Rasulullah adalah sosok yang teramat jarang tertawa. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tawa adalah pengeraskan hati. Seperti yang disabdakan oleh beliau, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.”

Selain itu tertawa yang berlebihan, termasuk di antara tiga perkara yang menyebabkan hati seorang menjadi bebal dan membatu. Sedangkan dua penyebab yang lainnya yaitu: belum lapar sudah makan lagi dan gemar omong kosong (bicara ke sana kemari yang tak berguna).

Namun, bukan berarti Rasulullah adalah sosok yang “dingin” karena beliau juga manusia yang bisa tertawa. Namun, jangan membayangkan tawa Rasulullah seperti yang sering kita lakukan, mulut terbuka lebar dengan suara yang meledak-ledak. Tawa beliau hanya membuka mulut sedikit hingga memperlihatkan giginya yang putih. Dalam salah satu hadits dari Aisyah “Aku belum pernah melihat Rasulullah terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum” (HR. Bukhori dan Muslim).

Seperti kehidupannya yang patut keteladanan, tawa “kecil”nya pun menyiratkan hikmah. Beliau tertawa dengan segala kerendahan hati dan tak pernah lepas dari renungan, seperti ketika melihat umatnya bahagia, saat becanda yang tidak terselip kebohongan, atau saat beliau melihat kejadian ghaib di sekitarnya. Salah satu kisah yang terbilang sangat mengena bagi saya adalah “Melakukan Semua Kebaikan Dalam Sehari”

Kala itu Rasulullah menanyakan kepada para sahabat, “adakah yang melakukan puasa hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bertanya kembali tentang siapa yang hari ini mengunjungi orang sakit dan bersedekah. Keduanya pun telah dilakukan Abu Bakar ra hari itu. Rasulullah pun tertawa dan berkata, Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak seorang beriman pun yang melakukan semua ini dalam satu hari, kecuali dia akan masuk surga karenanya [h.125]

Jika diperkenankan untuk jujur, hampir sebagian besar alasan tawa Rasulullah sama sekali tidak saya pahami dan kebingungan dimana letak lucunya—apakah karena hati saya sudah bebal? Walaupun begitu, kembali lagi bahwa kisah kehidupan beliau memang senantiasa ‘bersahabat’ dengan kearifan dan tawa/ senyum beliau tidak pernah berlebihan.

Allah swt berfirman, "Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. At-Taubah:82)


Judul : Tawa Ala Rasulullah
Penulis : Abu Islam Ahmad bin ‘Ali
Penerbit : Nakhlah Pustaka

Terbit : Agustus 2008
Tebal : 180 halaman
Genre : Akhlak
ISBN : 9791026386

NB: Bagi yang tertarik membeli buku ini, bisa memesan pada saya dengan diskon 15%, atau dengan harga paket--- yang pasti lebih myurah :D
Readmore → Tawa Ala Rasulullah

Jangan Sadarin Cewek


Jangan Sadarin Cewek. Judul buku ini terdengar menyindir para cewek, bisa jadi judul ini juga wujud dari kejengkelan di penulis kepada cewek yang semakin hari semakin tidak menghargai dirinya sendiri. Pemilihan sebutan cewek pun dirasa lebih layak dibandingkan dengan wanita atau perempuan, bahkan di beberapa bagian si penulis dengan kasarnya menyebut wanita dengan betina.

Kasar? Ya, bisa jadi si penulis memang mengambil jalan sarkasme untuk mengingatkan kaum cewek, dimana ketika diberitahu dengan gaya halus ternyata tidak jua mempan. Buku ini berbentuk mini, semacam buku saku yang bisa dijadikan teman seperjalanan. Lumayan, jadi “cemilan” yang bisa dihabiskan dalam waktu kurang dari sejam.

Sebenarnya dari buku ini kita tidak akan mendapatkan solusi permasalahan yang ada, karena isinya hanya sindiran-sindiran nylekit, tetapi lewat kepingan-kepingan esai, para pembaca [atau tanpa sadar juga sebagai pelaku] diajak untuk merenung dan menyimpulkan sendiri apa yang harus dilakukan. Hanya saja, dalam buku ini saya tidak menemukan sesuatu yang baru, hanya mengulang sesuatu yang memang sudah ramai beredar di zaman sekarang.

Gaya kepenulisan buku yang tidak mencantumkan halaman ini, dibuat dengan model “bisik-bisik cowok”, dimana mereka [para cowok] seperti menertawakan kebodohan dan kemudahan para cewek ini untuk dimanfaatkan. Yang pasti buku ini menyiratkan bahwa dibutuhkan cewek-cewek tegas untuk “menghancurkan” para cowok bejat.

Judul: Jangan Sadarin Cewek
Penulis: Chio
Penerbit : Diandra
ISBN : 9789791711302
Readmore → Jangan Sadarin Cewek

Ngefans Sama Rasul


Di sela-sela menekuni buku fiksi-sejarah tentang Rasululloh, saya membaca tuntas buku berjudul 'Ngefans Sama Rasul'. Buku yang sudah bertampang lecek ini, kembali saya baca untuk me-refresh kepala dengan sejarah hidup sosok yang terkenal dengan gelar al-Amin. Saya membeli buku ini sekitar tahun 2006 di sebuah bazar buku di kampus dulu. Wow! ingatanku baik sekaleee...jarang-jarang neh ^^ Iya lah, karena membelinya barengan dengan buku "Palestina, Emang Gue Pikirin", buku yang saat itu sedang saya idam-idamkan *malah buku P,EGP yang belum kelar dibaca :p*

Sampai saat ini saya masih suka membacanya. Kalau ditengok dari judul dan desain sampul, pasti akan tertangkap kesan gaul dari bukunya. Ya, desain sampullah yang dulu mendorong saya untuk membeli buku ini, supaya adik-adik tertarik untuk membacanya *me too-lah*. Apalagi saat itu adikku sangat menyukai gambar kartun-kartun lucu, sehingga semakin memantapkan diri untuk membeli buku ini yang juga berisi ilustrasi-ilustrasi gokil.

Adanya unsur gaul dan gokil dalam buku terbitan Lingkar Pena ini, tidak mengurangi kualitas dari kisah tentang riwayat hidup Rasululloh. Berawal dari pertemuan Rasulullah dengan Bahira, seorang pendeta yang melihat tanda kenabian dari Muhammad yang saat itu sedang melakukan perjalanan dagang dengan pamannya, Abu Thalib, cerita kehidupan sang nabi mengalir dengan bahasa yang ringan dan mudah untuk dikonsumsi otak.

Walaupun menggunakan bahasa yang ringan, perjalanan dakwah Rasululloh yang penuh hujatan dan kisah peperangan, Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khaldaq, tidak membuatnya kehilangan aura kesungguhan dan perjuangan dari Nabi dan pengikutnya yang menggetarkan, bahkan rangkaian kata yang mengisahkan wafatnya Rasululloh dialiri keharuan. Penulis yang pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana di majalah sabili ini, menuturkan kisah hidup Rasululloh dengan bersumber dari banyak literatur yang telah terjamin kebenarannya, sehingga tidak perlu diragukan lagi kevalidan isi buku yang masuk dalam lini Eduteens ini.

Jika menengok dan menekuni kehidupan manusia yang dipenuhi kemuliaan ini, maka sangatlah patut jika sosoknya dijadikan idola yang tidak akan lekam dalam jiwa setiap insan, termasuk para muda-mudi yang saat ini banyak terlena dengan gemerlap dunia glamor dan hedon.

Judul : Ngefans Sama Rasul
Penulis : Herry Nurdi
Editor: Tim Editor Lingkar
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Tahun : Desember 2005
Genre : Biografi
Tebal : 181 halaman
ISBN : 979-3651-71-7

kunjungi: http://wisata-buku.com
Readmore → Ngefans Sama Rasul

Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya

Korupsi saat ini sudah merajai lembaga pemerintahan dan menjadi keprihatinan yang mengenaskan. Korupsi laksana gaya hidup bagi para oknum penggede, baik dari strata rendah sampai yang tertinggi, yang hanya menjadi benalu demi meraup kekayaan dan kekuasaan. Baru-baru ini, kasus korupsi yang sedang ramai adalah Gayus Tambunan. Pegawai negeri sipil golongan IIIA di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan ini kedapatan melakukan korupsi. Lucu rasanya saat menengok kembali gaji bulanan yang sebesar 12.1 juta, jauh di atas standar gaji pegawai yang segolongan, ternyata masih membuatnya tidak puas. Sebenarnya dorongan untuk mendapat sesuatu yang lebih, adalah manusiawi, dimana sifat tersebut memang dianugerahkan pada manusia dalam bentuk nafsu. Namun, kembali lagi bagaimana manusia mengelola hawa nafsunya, untuk mendapatkan keberkahan bukan malah kepicikan. ”....janganlah kamu mengikuti nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran....” (QS. An-Nisa:135)

Harta, adalah alasan yang kerap menjadi niatan awal para koruptor hingga begitu tega dan tanpa nurani menggelapkan uang. Hasilnya mereka memang kaya harta, tetapi miskin hati. Melihat korupsi, yang sering terjadi pada para penggede yang sebenarnya telah hidup lebih dari cukup, seperti melihat orang yang telah kenyang, tetapi masih rakus melahap hidangan tanpa menyadari di sebelahnya sedang berdiri orang kelaparan yang terus menerus mengurut perutnya. Miris, sangat miris. Salah satu fenomena yang lahir dari ideologi kapitalis yang selalu mendewakan uang.

Memiliki harta berlimpah tidaklah haram, tetapi akan berubah haram jika memperolehnya ditempuh dengan jalan “menyimpang”. Di sinilah buku terbitan Khas MQ mencoba merumuskan kembali tentang hakikat kaya, sekaligus menemukan jalan menuju kekayaan yang hakiki, termasuk harta. Sebenarnya menjadi kaya harta tidaklah salah, karena sesungguhnya dengan berlimpahnya harta, malah akan memperluas peluang untuk membaktikan diri kepadaNya dan memberikan yang terbaik dari yang terbaik. Selain itu, dengan harta berlimpah lebih berpotensi menghindarkan kita dari kekufuran akibat ketergantungan dengan kaum yang lain. Hanya, yang perlu digaris-bawahi adalah upaya untuk mendapatkan harta tersebut.

Teringat bagaimana saat pemilu banyak orang berduyun-duyun mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Tanpa menggeneralisir, tidak dipungkiri bahwa ada sebagian oknum yang menganggap kantor senayan adalah ladang uang yang kerap menciptakan OKB [Orang Kaya Baru]. Akibatnya, para calon ini rela menghambur-hamburkan uang untuk mempromosikan diri dengan slogan-slogan “indah”. Yang menjadi pertanyaan, apakah fenomena “rebutan-kursi” akan tetap seheboh ini jika pemerintah tidak dengan mudah mengeluarkan duit-duit tunjangan atau uang saku untuk para pejabat legislatif?

Tak dipungkiri, jika saat ini penduduk bumi sedang mengalami krisis akhlak, krisis yang menjadi salah satu pemrakarsa maraknya budaya instan dalam mengeruk uang. Keinstanan yang menjadi bumbu penyedap dari “nikmat”nya korupsi inilah yang kerap membuat para koruptor dengan tanpa bersalah melakukan manipulasi-manipulasi demi menambah ketebalan kantong.

Budaya instan itulah yang coba dibenahi oleh penulis yang terkenal kalem dan karismatik. Untuk meraih kekayaan harta, tidaklah sekadar berurusan dengan lahiriah, seperti bekerja, tetapi juga berurusan dengan alam ruhaniyah. Aa Gym, seorang ustadz yang juga seorang pengusaha ini menawarkan sebuah jalan meraih kesuksesan lewat konsep kaya GIGIH+H. Apakah GIGIH+H? Adalah sebuah proses yang ditempuh insan untuk memperoleh kekayaan harta tanpa meninggalkan kekayaan rohani. Walaupun insyaALLAH, dengan kesungguhan usaha, akan mempertemukan pelaksananya dengan harta yang berlimpah, titik berat dari proses ini bukanlah pada bertambahnya kekayaan, tetapi lebih kepada pembentukan pikiran, motivasi dan hati. Hanya disayangkan, di buku ini Aa Gym tidak membagikan pengalaman beliau di lapangan, yang sekiranya akan lebih membuka mata pembaca tentang realita pencarian konsep GIGIH+H yang disampaikan.

Terlepas dari kekurangannya, buku setebal 180 halaman ini, akan membuat pembaca menganggap kaya harta “hanya” sebuah bonus dari kerja keras membenahi diri yang kemudian menuntut manusia untuk menjadi karakter yang baik dan kuat. Karakter yang nantinya akan menggiring pembaca untuk berupaya meraih 7B, yang salah satunya adalah Bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas, sehingga mengarahkan hakekat kaya dari sudut pandang yang lebih baik.

Judul : Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya
Penulis : Abdullah Gymnastiar
Editor : Bambang Trim dan Deny Riana
Penerbit : Khas MQ
Tahun : September 2006
Genre : Motivasi
Tebal : 180 halaman
ISBN : 979-99680-0-3

kunjungi: http://wisata-buku.com
Readmore → Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya

Spiritual Kitchen

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” Ali Imran 191

Lewat ayat ini Allah “menantang” manusia untuk menggunakan akalnya, untuk selalu berpikir tentang segala ciptaan-NYA yang tak pernah sia-sia. Yang sekaligus menunjukkan bahwa ujung segala kerja akal adalah mengingat Allah SWT.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang diciptakan ALLAH dengan sia-sia. Bahkan hal seremeh apapun, pasti memiliki manfaat, seperti halnya dapur. Pekerjaan dapur sering kali dipandang sepele, yang kemudian menyerahkan kepada pembantu RT atau mengerjakan sendiri tetapi dengan asal-asalan dipenuhi gerutuan.

Dapur sebenarnya salah satu wadah untuk berkreasi dan berdzikir, lewat tafakur, mencerna ayat-ayat kauniyyah yang tercecer dan tidak tertulis dalam Al-qur’an. Dapur adalah laboratorium mini tempat untuk mencoba dan mempraktekkan masakan. Buku sederhana ini memberi banyak hikmah dan mengajari untuk membaca makna di balik benda-benda ataupun kegiatan seputar dapur. Bagaimana termos dengan lapisan logamnya beremisi 0 mampu menjaga suhu panas yang dimaknakan dengan bagaimana manusia selayaknya menjaga keimanannya seperti lapisan termos, atau makna ulat, makhluk menjijikkan dan sering kali membuat kita begidik, yang berada dalam sawi. Makna dalam celupan atau kelunturan kain saat mencuci, dan masih banyak lagi makna-makna yang bisa kita renungkan. Ketika Intan dan Arang yang tidak jauh berbeda, atau kerjasama bumbu-bumbu ketika memasak, dan masih banyak hal-hal simple yang ternyata mengandung makna yang dalam tentang kehidupan.

Sayang buku ini hanya menyajikan sedikit makna yang terdapat dalam dapur, yang semestinya masih banyak hal yang bisa digali. Dan akhirnya, tugas pembaca sendiri lah untuk meneruskan memaknai kegiatan dapur.

Judul: Spiritual Kitchen
Penulis: Ummifani
Penyunting: Pratiwi Ambarwati
Penerbit: Al Bayan Mizan
Cetakan: Oktober 2005
Tebal: 176 halaman
Harga: Rp. 10.000,- [Diskon di Gramed Merdeka Bandung]
ISBN: 9798394240
Genre: Non Fiksi



Readmore → Spiritual Kitchen

Shalat is Fun

Amal yang paling pertama dinilai oleh Allah pada hari Qiyamah adalah shalat. Kalau shalatnya baik ada harapan amalan lain menjadi baik. Dan, kalau shalatnya tidak baik, amalan lainnya akan terbawa tidak baik

Shalat adalah kewajiban utama seorang muslim. Bahkan shalat adalah amalan pertama yang akan dipertanyakan saat manusia terkubur di liang lahat, yang disusul kemudian dengan pertanyaan tentang hutang. Mengingat pentingnya amalan yang satu ini, amat sangat perlu kita mengkaji lebih dalam tentang ketentuan aturan dan pelaksanaannya supaya ibadah yang kita lakukan menjadi lebih bernilai.

Sholat is fun menyajikan segala yang berhubungan dengan shalat. Mulai dari hukum bersuci sebelum shalat, penjelasan tentang shalat fardlu, macam sholat sunnah beserta tata cara pelaksanaannya, ketentuan qashar dan jamak, keutamaan shalat berjama’ah, bacaan-bacaan dzikir, hal-hal yang membatalkan shalat sampai kepada tips supaya shalat menjadi khusyuk. Selain itu, Doel wahab juga melengkapi penjelasannya dengan mengambil beberapa mazhab [ajaran/aliran] agar pembaca dapat mengenali perbedaan yang terjadi dalam pelaksanaan sholat. Sembari dituturkan bahwa perbedaan itu tak seharusnya menjadi penyebab permusuhan.

Shalat is fun,--seperti yang terpancar dari judulnya—dirancang untuk konsumsi para remaja. Memakai gaya bahasa yang santai dengan menggunakan sapaan aku-kamu, membuat pembaca merasa tidak digurui. Namun, ketidak-nyamanan terjadi saat membaca narasi yang terurai terlalu panjang, membuat terasa menjemukan. Ilustrasi pun tidak terlalu banyak, padahal adanya selingan visual akan menjadi rehat ringan dan daya tarik pembaca untuk meneruskan bacaannya.

Mengenai desain cover yang menampilkan kartun seorang remaja tersenyum dan khusyuk dalam melaksanakan sholat, yang mengakibatkan para setan tidak berani mengganggu, dirasa tepat menggambarkan isi dari buku. Cover yang diharapkan dapat menjadi pemicu motivasi pembaca untuk mendapatkan kenikmatan sholat yang senada.

Judul Buku: Shalat is Fun
Penulis: Doel Wahab
Penerjemah : Ibnu Ramli
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: Pertama, September 2005
Tebal: 253 halaman
Harga : Rp. 10.000 [diskon]
Readmore → Shalat is Fun

Doa Cinta

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia


Lirik ini pasti sudah familiar di kepala kita. Hanya memberi, tak harap kembali. Lirik yang menggambarkan totalitas seorang Ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seperti cerita keikhlasan tokoh Biyung yang memberikan doa dan cintanya untuk kedua putranya, Irkham dan Fitri.

Irkham adalah seorang sarjana lulusan S2 sosiologi Humboldt, universitas tertua dan termasuk salah satu dari lima universitas riset teratas di Jerman. Gelar yang “wah” ternyata tidak lantas membuat Irkham berbahagia, karena sebuah realita terpampang dihadapannya. Pengangguran. Setelah lulus Irkham pun dihadapkan pada sebuah dilema, pulang segera ke Indonesia atau mencari bekal dulu untuk dibawa pulang?

Karena ketakutannya dengan gelar baru pengangguran nanti, akhirnya Irkham memutuskan memperpanjang masa hidup di Jerman dengan bekerja serabutan. Tapi keputusan yang diambil tanpa memberitahu keluarganya ini, ternyata berdampak cukup fatal. Pada saat bersamaan, sang kekasih, Amelia mendapat desakan dari orang tuanya tentang kepastian hubungannya dengan Irkham. Hilangnya kontak dengan Irkham dan nasehat dari Biyung, membuat Amelia melanggar janjinya untuk menunggu kepulangan Irkham.

Ketika Irkham pulang ke Indonesia, berbagai tekanan dan pernikahan kekasihnya membuat Irkham terpuruk. Bingung dengan apa yang akan dilakukan, Irkham memilih kebohongan menjadi “jalan keluar” mengatasi tekanan. Berbohong dengan mengatakan bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan di Semarang. Namun, seperti mata rantai yang tak pernah putus, kebohongan demi kebohongan terus dilakukan Irkham, hingga akhirnya penyesalan pun datang terlambat.

Dengan mengambil setting Jerman, Purwokerto dan Semarang, buku terbitan edelweiss ini memberi banyak pelajaran, tentang kasih sayang, kesabaran, cinta dan doa yang bertubi-tubi dari seorang ibu, tentang semangat hidup dan mendapatkan impian, tentang penyesalan, tentang dinamika kehidupan desa. Tetapi cerita terlalu bertele-tele, banyak bagian yang tidak mendukung cerita. Selain itu banyak sekali kesalahan dalam pengetikan dan penggunaan tanda baca seru yang tidak pada tempatnya.

Ada beberapa bagian yang menurut saya pribadi tidak sreg. Mengingat genre buku yang condong pada novel islami, obrolan antara Irkham dan Amelia-yang notabene-nya memiliki dasar agama cukup kuat-dituliskan dengan gaya yang saling menggoda. Parahnya, obrolan ini diselipi dengan unsur-unsur agamis. Hal ini membuat buku menjadi tidak tegas dan ganjil. Ataukah si penulis memang sengaja mencampur-baurkan yang benar dan salah didalamnya?

Judul: Doa Cinta
Penulis: Sirin MK
Penerbit: Edelweiss
Cetakan: 2009
Tebal: 372 halaman
Harga: - [Pinjam]
Readmore → Doa Cinta

Muara kasih


Kathrin Elizabeth Kelly, seorang gadis keturunan Sunda-Padang, yang terpaksa diberikan ibu kandungnya kepada wanita asing. Semua dilakukan demi biaya rumah sakit yang tidak bisa sang ibu lunasi seusai melahirkannya. Maka Kathrin pun hidup di negeri seberang dengan sebuah keluarga asing namun sangat hangat, dan menerimanya dengan segala perbedaan yang terlihat jelas secara fisik.

Kathrin tumbuh menjadi gadis yang patuh kepada Mom, hingga suatu ketika Kathrin menemukan hidayah berupa keislaman. Mom yang sangat mengharapkannya untuk menjadi aktivis gereja terpukul dan shock. Rasa bersalah, kemudian pandangan Ja [kakak pertama Kathrin_red] yang tak bersahabat membuat Kathrin semakin terpuruk. Beruntunglah dia memiliki Dad dan Matt [kakak kedua Kathrin_red] yang masih terus memotivasinya.

Ternyata ujian Kathrin atas keislamannya masih berlanjut, diskriminasi dia peroleh dari seorang guru yang tidak menyetujui kostumnya saat mengikuti mata kuliah sang guru. Lagi-lagi, beruntung Kathrin memiliki teman-teman yang solider. Tak hanya teman yang seiman, tapi juga non muslim pun membela hijab Kathrin. Konflik dengan pihak sekolah ini membuat masalah semakin melebar dan mulai merambah ke pengadilan.

Mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak angkat Keluarga Kelly, membuat Kathrin ingin mengetahui keluarga kandungnya. Keinginan yang membuatnya bertekad berangkat ke Indonesia demi menggali misteri masa lalunya. Dan kisah pun menjadi semakin pelik

Menampilkan Australia, Minang dan Sunda sebagai setting tempat, memberi ragam warna budaya dalam buku yang telah dicetak untuk kelima-kalinya. Dengan dua plot cerita yang berjalan beriringan, sama sekali tidak membuat cerita bertabrakan, malah saling mendukung satu dengan yang lain. Walaupun konflik bertebaran, Muthmainnah mampu mengolah kisah dengan bahasa yang lugas dan tidak bertele-tele.

Judul: Muara kasih
Penulis: Muthmainnah
Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media
Cetakan: 2004
Tebal: 216 halaman
Harga: - [Pinjam]



Readmore → Muara kasih
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design