Showing posts with label ghirah. Show all posts
Showing posts with label ghirah. Show all posts

Friday, January 02, 2015

Ajalmu Tidak Menunggu Tobatmu



Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina - QS. Mukmin: 60
Ajalmu Tidak Menunggu Tobatmu. Judul menohok yang menjadi salah satu alasan saya untuk membacanya. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan yang seharusnya direnungkan dan disesali hingga mencapai titik kesadaran yang berujung pada pertaubatan.

Jangan sekali-kali berputus asa karena dosa. Kalimat yang mengingatkan sebesar apapun dosamu, inshaaALLAH akan diampuni karena besarnya kasih sayang ALLAH kepada hambaNya.


Namun, seperti halnya kita meminta maaf kepada manusia, yang tidak bisa secara asal-asalan, begitupun ketika seorang hamba ingin bertaubat, alangkah lebih baiknya jika dilakukan sesuai dengan adab. Taubat yang dilakukan dengan benar, inshaaALLAH akan mengantarkan pada terbukanya hati dan perubahan diri, bukan sekadar 'tobat sambal', sekarang taubat, besok mengulangi lagi.

Untuk mengetahui apa dan bagaimana taubat, buku Ajalmu Tidak Menunggu Tobat, bisa dijadikan pilihan memandu kita untuk bertaubat. Tak hanya menjelaskan perihal taubat, penulis juga menuturkan tentang doa yang sangat mendukung keberhasilan taubat. 


Kisah-kisah nyata tentang indahnya bertaubat menjadi penutup yang semakin menunjukkan kebesaran Allah dalam memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Penjelasan dalam buku ini runut dan disertai dengan dalil yang menguatkan. Terdapat juga daftar pustaka yang menjadi referensi penulis dalam menguraikan tentang taubat dan doa, sehingga pembaca pun dapat mengecek keabsahan isi buku.
 
Penulis: Saiful Hadi El-Sutha
Penyunting: Radrinda Rahman
Penerbit: WahyuQalbu
Cetak: Pertama, 2014
Tebal: xvi+264 halaman
ISBN: 9797959007
Harga Buku: Rp. 39.200 (Parcel Buku)
Bintang: 4/5
Readmore → Ajalmu Tidak Menunggu Tobatmu

Thursday, March 20, 2014

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam, kalimat yang disadur dari slogan Bung Karno ini, mungkin menjadi salah satu misi dari buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini memuat biografi tokoh besar yang pernah dimiliki sejarah Islam, seorang pemimpin yang menggenggam erat perkataan Rosulullah dan yakin bahwa "ramalan" tersebut akan terealisasi di tangannya.

Pendidikan Masa Kecil

Tak dipungkiri bahwa pendidikan masa kecil berpengaruh besar pada terbentuknya karakter seseorang. Sultan Mehmed II bin Murad II, yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih mendapatkan pendidikan yang sarat dengan ilmu, yang berkaitan dengan fiqh, alQur'an maupun bersifat umum, seperti astronomi, matematika, bahasa, dll. Syaikh Aaq Syamsuddin menjadi salah satu pilihan Sultan Murad II untuk mendidik putranya. Syaikh Aaq bukan sembarang ulama, beliau adalah seorang polymath, ulama yang menguasai berbagai bidang dan berwawasan luas, sehingga Mehmed benar-benar mendapatkan ilmunya dari seseorang yang tepat.

Keluasan ilmu umum yang didukung dengan pemahaman agama yang kuat membentuk Mehmed menjadi karakter yang cerdas dan berakhlak. Kekaguman Mehmed kepada Rasulullah Saw tak luput dari pelajaran sirah nabawiyah yang disampaikan Syaikh Aaq. Tak dipungkiri bahwa 'obsesi' Kesultanan Utsmani dari generasi ke generasi adalah menaklukkan Konstantinopel. Sehingga, Mehmed pun tumbuh dengan obsesi tersebut, menaklukkan Konstantinopel dan menjadi sebaik-baiknya pemimpin.

Konstantinopel Harus Takluk

Keinginan yang menggebu untuk menaklukkan Konstantinopel membuat Mehmed harus memutar otak. Kekuatan benteng darat Konstantinopel yang berlapis tiga menjadi bagian tersulit untuk menembus kota. Apalagi wilayahnya yang sebagian besar di keliling laut membuat kota ini tak terembus selama berabad-abad. 

Sultan Mehmed belajar dari sejarah, yang berkaitan dengan upaya para pendahulunya untuk menaklukkan Konstantinopel, apa kekurangan yang membuat rencana mereka gagal. Sembari belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, Mehmed mengumpulkan ahli dari berbagai ilmu untuk mendukung rencananya. 

Strategi-strategi yang dilakukan Sultan Mehmed II dijelaskan cukup detail dalam buku ini, dengan dilengkapi gambar-gambar pendukung. Sayangnya, beberapa gambar agak membingungkan seperti struktur benteng konstantinopel atau peta 3D dari Konstantinopel.

Bagian yang menarik dari buku ini adalah layout. Jika sering dijumpai layout buku dengan desain yang senada pada hampir setiap lembarnya, maka Muhammad Al-Fatih 1453 memperlihatkan kekuatan layout dengan menampilkan desain yang disesuaikan dengan isi lembarannya. Dukungan layout membuat pembaca menjadi lebih bisa merasakan perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel.

Allah lah yang Terkuat
"Sesungguhnya Allah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajiban dengan pedang ini maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar Al-Ghazi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada Hari Kiamat nanti?" (h. 265)
Saat ketaqwaan, keyakinan dan komitmen menjadi kekuatan dalam diri manusia, perubahan besar dapat terjadi. Meski Sultan Mehmed memiliki pasukan yang lebih banyak dibandingkan Konstantinopel, dia tidak lantas menyombongkan diri. Pendidikan akhlak yang ditempa sejak dini menjadikannya sosok yang tetap menyandarkan kekuatannya kepada Sang Maha Kuat, Allah SWT. 

Perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel sering menemui kegagalan, tak jarang memunculkan suara sumbang yang tidak mendukung, bahkan sempat muncul benih-benih pemberontakan dalam pasukan Yaniseri. Namun kembali lagi, Sultan Mehmed meyakini akan kepastian terealisasinya "ramalan" Rasulullah, melalui pedangnya. 

Demi merobohkan benteng konstantinopel, tak sekadar inovasi senjata yang diciptakannya tapi juga peningkatan ibadahnya dan seluruh prajuritnya. Kalimat, sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan, diyakini Sultan Mehmed sebagai pengingat bahwa pemimpin dan pasukan yang dimaksud harus mendapatkan ridha-Nya. Dan ridha akan tercapai jika mereka mendekatkan diri dan melandaskan peperangan ini demi Allah semata. Pemandangan shalat berjamaah dan lingkungan yang dipenuhi dengan tilawah menjadi gambaran kondisi perkemahan pasukan Utsmani saat pengepungan Konstantinopel

Belajar dari sirah Muhammad Al Fatih, pembaca dapat memetik banyak pelajaran berharga. Mulai dari pendidikan yang tidak mengotak-kotakkan antara agama dan umum, pembekalan akhlak yang membuahkan ketaqwaan dan keimanan yang tinggi, sifat pemimpin yang selalu bijak dalam mengatasi kemelut dalam pemerintahannya, sampai pada semangat pantang menyerah demi mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah Swt. Subhanallah...

Menekuni sejarah, apalagi berkenaan dengan Islam, akan memberikan asupan semangat dan renungan yang membuat kita berpikir dan bertindak lebih baik. Maka dari itu, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam.

Judul: Muhammad AlFatih 1453
Penulis: Felix Siauw
Penyunting: Salman Iskandar
Penerbit: Al Fatih Press
Cetak: Kelima, November 2013
Tebal: xxvi + 320 hlm
ISBN: 978 602 17997 0 3
Harga: Rp. 75.000
Readmore → Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam

Thursday, January 16, 2014

Habits, Menjadi Luar Biasa Dari yang Biasa


Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan.” - Aristoteles
Pepatah ini saya temukan dalam buku, Ya, Aku Bisa! Juara Sepanjang Masa. Pepatah yang sangat pas menggambarkan isi buku bersampul sederhana tapi cantik ini. Habits atau kebiasaan, adalah kata yang sebenarnya sudah familiar di kepala kita, tapi kebanyakan menganggapnya sesuatu yang biasa. Dari yang biasa inilah, kita bisa menjadi sosok yang dianggap luar biasa. Jadi, yang harus digarisbawahi adalah bahwa yang luar biasa dimulai dari yang biasa.

Menciptakan kebiasaan adalah faktor penting yang wajib dilakukan jika memiliki keinginan menjadi seseorang atau mewujudkan sesuatu. Seperti saat seseorang yang tidak pernah tilawah, kemudian diajak untuk mengikuti program One Day One Juz, kebanyakan akan berpikir, 'itu mustahil!' Tapi, bagi yang setiap hari sudah terbiasa membaca Al-Qur'an, ajakan tersebut bukanlah hal yang sulit. Memandang sulit dan mudah pun menjadi tergantung dari kebiasaan kita.

Kebiasaan akan sangat mempengaruhi akan seperti apa kita kelak. Jika terbiasa melakukan hal-hal positif, sudah tentu akan bermanfaat baik untuk kehidupan kita, dan berlaku juga sebaliknya, ketika kita memilih untuk melakukan aktivitas keseharian yang berdampak buruk. Jadi, kita penentunya, akan menggiring diri kita pada yang baik atau buruk. Ada dua kunci yang diberikan dalam buku How to Master Your Habits, untuk menciptakan habits yang baik. Dengan melakukan kunci inilah, secara refleks akan dilakukan kebiasaan-kebiasaan, yang sangat mungkin menjadikan kita sosok luar biasa, dari aktivitas yang biasa.
Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang terus menerus (HR. Bukhari Muslim)
Tak sekadar memberikan pemahaman tentang pentingnya membentuk sebuah habits, How to Master Your Habits dilengkapi contoh kasus yang sangat mendukung kemudahan pembaca untuk menyerap apa yang disampaikan. Salah satu contoh kasus yang berkesan dibenak saya adalah membaca huruf arab gundul. Selain itu, kita juga disadarkan tentang hal-hal kecil yang bisa jadi selama ini kita anggap sepele ternyata berpengaruh buruk terhadap keberlangsungan habits.

Judul: How to Master Your Habits
Penulis: Felix Siauw
Penyunting: Ramadhi
Penerbit: Al Fatih Press
Cetak: Keempat, Oktober 2013
Tebal: 160 + viii
Bintang: 5/5

Readmore → Habits, Menjadi Luar Biasa Dari yang Biasa

Saturday, January 07, 2012

Perjalanan Meminang Bidadari



“Segala sesuatu memiliki dua sisi. Entah benda, apalagi manusia dan pikirannya. Seseorang bisa dianggap sebagai pahlawan di satu sisi, tapi bisa juga sebagai penjahat di sisi lain. Dianggap kawan bagi sekelompok orang, tapi musuh bagi sekelompok yang lain.”

Penilaian dari orang lain atas diri manusia memang tidak lepas dari sudut pandang dan pemikiran yang terbentuk dalam kepala setiap manusia. Namun, jika Anda seorang muslim sepertinya layak memproklamirkan bahwa ke-10 pria pilihan penulis ini sebagai seorang kawan, bahkan sosk yang patut menjadi teladan, atas keistiqomahan mereka dalam memperjuangkan kemuliaan Islam. Sosok-sosok yang sangat teguh dengan pendiriannya, sosok-sosok yang tak kenal ampun melawan penindasan, sosok-sosok yang berjuang dalam perjalanan meminang bidadari.

Jujur, hampir sebagian besar tokoh dalam buku, baru saya kenal lewat lembaran memoar yang dituliskan oleh Herry Nurdi ini. Namun, di antara yang saya kenal, nama Syekh Ahmad Yasin-lah yang jelas sangat menginspirasi. Dulu saya sering melihat sosoknya muncul di layar televisi. Sosok yang renta, tubuh yang sudah lumpuh, indera yang tidak berfungsi dengan baik, namun segala kekurangan fisik ternyata tak membuatnya menjadi lemah, malahan menjadikannya tokoh dengan pemikiran tajam dan ditakuti oleh musuh. Tua tidak membuatnya takut untuk melawan perampokan yang dilakukan oleh Bani Israel. Syekh Ahmad Yasin hanya ingin memperjuangkan apa yang menjadi haknya, hak rakyat Palestina, seperti yang dikatakannya, “Aku tidak melawan Yahudi karena mereka Yahudi. Aku melawan karena mereka merampas tanah kami – [h.83]. Itulah sebagian kecil dari memoar yang padat-berisi tentang masa hidup Syekh Ahmad Yasin

Tak ada kata terlalu tua untuk berjihad di jalan Allah ~ Syekh Abdullah Yusuf Azzam

Kalimat yang dikutip dari halaman 120 tersebut, yang diucapkan salah satu tokoh dalam buku “Perjalanan Meminang Bidadari”, cukup mewakili bagaimana kesepuluh mujahid benar-benar ‘menghabisi’ umurnya hanya ditujukan pada-Nya, hanya untuk mendapat ridho-Nya, hanya demi meraih kemuliaan di jalan-Nya.

Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Omar Mukhtar, Yahya Abdul Latif Ayyash, Ibnul Khatab, Syekh Abdul Yusuf Azzam, Abdul Aziz Rantisi, Abdullah Syamil Salmanovich Basayef, dan Dzokar Musayevich Dudayev, adalah rangkaian nama yang perjalanan hidupnya coba dipaparkan oleh penulis, agar menjadi inspirasi bagi siapapun yang membaca. Saya pribadi setelah membaca buku ini, benar-benar dibuat takjub dengan komitmen yang dipegang teguh, bahkan di kala iman menurun pun, mereka masih dapat bangkit kala mengingat apa yang menjadi tujuan hidup mereka, seperti yang terkisah pada memoar Sayyid Qutb. Sungguh, memoar-memoar dari para mujahid ini pasti akan membuat pembaca termenung, seperti halnya saya. Coba merenungi kembali apa sebenarnya hakikat hidup di dunia, kembali memaknai segala bentuk ibadah, sekecil apapun, bahkan saya berani berkata buku ini insyaALLAH akan menjadi pendongkrak di kala futur.

Sedikit menyinggung tentang jihad. Dewasa ini jihad seringkali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Sebuah cara pandang yang rupanya berhasil dicekokkan media lewat banyaknya propaganda yang semakin menyudutkan Islam. Efeknya, sebagian masyarakat anti dengan istilah jihad. Well, saya sebenarnya masih tergolong awam jika harus memaparkan segala tentang jihad, tapi kutipan dari perkataan Buya Hamka dalam artikel Membela Jihad dalam Pandangan Buya Hamka sepertinya layak untuk direnungkan kembali.

Ketakutan menyebut perkataan jihad adalah dikarenakan hilangnya kepribadian sebagai muslim, atau memang disengaja untuk menghilangkan harga diri sebagai muslim sejati.”

Judul: Perjalanan Meminang Bidadari
Penulis: Herry Nurdi
Penyunting: M. Irfan Hidayatullah
Penerbit: Lingkar Pena
Terbit: Pertama, 2011
Tebal: 210 hlm
Readmore → Perjalanan Meminang Bidadari

Sunday, December 25, 2011

Perjuangan Muslim Patani


Sebagian besar dari umat muslim pasti tahu mengenai pergolakan di Palestina. Perebutan wilayah yang dilakukan secara paksa, sadis dan sporadis oleh Israel atas bumi Al-Aqsha. Beragam berita pun muncul dan memperlihatkan kekejaman Israel. Kesadisan dari si laknatullah ini mampu membangkitkan kesadaran moral dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Acara-acara penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina pun sempat membanjiri setiap daerah. Sayangnya, kegiatan seperti itu hanya berlangsung secara momentum.

Setiap kali ditanya wilayah muslim mana yang mengalami penindasan yang tiada berakhir, pasti kebanyakan orang akan menyebutkan nama Palestina. Ya, negara tersebut lah yang sering kali di-expose oleh media. Namun, kenalkan Anda dengan nama Patani? Atau Muslim Patani? Sebagian pasti akan mengerutkan kening, mencoba untuk menggali ingatan yang berkenaan dengan nama tersebut.

Konflik Muslim Patani memang sangat jarang diangkat oleh media. Padahal kondisinya tak jauh berbeda dengan rakyat Palestina, dimana bangsanya sedikit demi sedikit ingin dilenyapkan. Patani adalah sebuah wilayah di selatan Thailand yang mengalami penindasan dari penjajah Syam/Thailand. Dulunya, Patani merupakan wilayah kerajaan muslim yang merdeka, tapi kemudian muncul Perjanjian Bangkok yang berisikan pembagian wilayah kekuasaan antara Inggris dan Siam/ Thailand, dan Patani pun termasuk dalam kewenangan Siam.

Pemerintahan Thailand melakukan pembunuhan tidak hanya secara fisik, tetapi juga hampir ke semua aspek kehidupan, seperti pendidikan, sosial, sejarah, dan budaya. Penutupan berbagai pondok pesantren, penghapusan bahasa melayu yang digantikan bahasa siam pada mata pelajaran bahasa, melakukan asimilasi kebudayaan Siam ke tubuh Patani, penghapusan hukum pernikahan dan waris islami dalam permasalahan hukum, bahkan sejarah mulai dikaburkan dengan menyebutkan Patani termasuk bagian wilayah Thailand. Upaya-upaya inilah yang membuat rakyat Patani geram, hingga menimbulkan pemberontakan dari mereka.

Profesi penulis yang telah malang melintang di dunia jurnalistik dan adanya berbagai fakta yang pernah dilihatnya di lapangan membuat esai-esainya bernada bahasa lugas dan tegas. Penggambaran kondisi rakyat Patani pun terasa lebih nyata dengan adanya dukungan foto-foto yang cukup banyak terlampir dalam buku. Sayangnya, hampir sebagian foto tidak diberi keterangan lokasi atau kejadian.

Terdapat 17 esai yang disuguhkan ke dalam buku yang nyaman untuk dibawa-bawa ini. Hanya saja, bentuknya yang berupa kumpulan esai membuat kerunutan pembahasan tidak terjalin dengan baik dan terkesan morat-marit. Alangkah lebih bagusnya lagi jika pemaparan tentang Muslim Patani ini dibuat dengan subbab yang lebih runut, mulai dari sejarah awal Kerajaan Melayu Patani, masuknya ‘rezim’ Thailand, pemberontakan/perjuangan rakyat Patani, hingga tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Patani. Dengan kerunutan tersebut, pembahasan tentang Patani akan lebih jelas dan terstruktur, tidak bolak-balik dan loncat-loncat.

Terlepas dari kekurangannya, buku ini dapat dijadikan wacana awal bagi siapapun yang ingin peduli dengan perjuangan dari sesama muslim. Kita tak hanya harus peduli dengan penderitaan Palestina, karena ada negara tetangga yang juga membutuhkan bantuan dan doa kita, Melayu Patani.

Judul : Perjuangan Muslim Patani
Penulis : Herry Nurdi
Penyunting: Adhes Satria
Penerbit : Sabili Publishing
Terbit : Cetakan Pertama, 2010
Tebal : xiv+186 halaman
kunjungi: http://parcelbuku.com
Readmore → Perjuangan Muslim Patani

Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon

“Senjata Suad Amiry adalah ironi dan ia mengemasnya dengan sangat cerdas dan handal…” Figaro

Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya siapa atau apa Figaro yang memberikan endors dengan begitu pasnya terhadap autobiografi ini. Setelah melakukan googling, dan bertemu dengan tante Wiki [liat di http://en.wikipedia.org/wiki/Figaro], saya menemukan beberapa “pengguna” nama ini, mulai dari judul lagu yang dipopulerkan Brotherhood of Man—sapa neh??--nama kerajaan dalam video game Final Fantasy VI sampai nama tokoh anak kucing teman Pinokio hasil ciptaan Walt Disney. Dari sekian “pengguna”, hanya satu yang paling berpotensi memberi endors dalam buku ini—karena akan sangat aneh jika anak kucing sampai memberikan endors. Figaro, nama pena dari penulis Spanyol bernama Mariano José de Larra, tetapi kemungkinan tersebut harus segera tersisih setelah membaca bahwa dia telah meninggal 1837. Well, akhirnya, setelah berseluncur ke mana-mana, hasil buruanku berujung pada Jay Heinrichs seorang penulis dan editor dengan segudang pengalaman yang membuat endors-nya memang layak dipampang di sampul depan sebuah buku [liat di http://www.figarospeech.com/whos-figaro/]. Dan semoga benar adanya, Figaro yang saya cari adalah dia, supaya kepala dapat terpuaskan.

Kalau saya cukup puas dengan perburuanku atas Figaro, tidak sama halnya dengan Suad Amiry yang terus memburu Israel lewat sindirannya yang sangat tajam.



Bajingan, kataku dalam hati. Begitu mudahnya tersinggung oleh sebuah tatapan!

Aku heran bagaimana reaksimu jika hidup di bawah Pendudukan selama bertahun-tahun…., atau jika hak belanjamu, seperti semua hak-hakmu diganggu…., atau pohon-pohon zaitun di perkebunan milik kakekmu ditumbangkan, atau desamu diratakan, atau jika rumahmu dihancurkan…, atau jika ibumu melahirkan di pos pemeriksaan…, atau jika kau tidak bisa menjangkau orang yang kau kasihi di Yerusalem di sebelah Arab bagian Timur.

Hanya sebuah tatapan, dan kalian kehilangan kesabaran! [hal 49-50]

Sengketa di Jalur Gaza memang ironi yang sangat menyedihkan. Tanpa berputar-putar dengan teori, perempuan lulusan arsitektur ini mengkritik dengan cerdas kearoganan Israel lewat kejelian matanya menangkap setiap detail keseharian dan lingkungannya. Dengan gaya blak-blakan, cuek, lugas dan satire yang cukup kejam, buku yang bersumber dari diary dan email ini menceritakan tentang kondisi Ramallah yang sudah tak patut disebut sebagai kota, tentang kegilaan saat harus berlomba-lomba sampai di rumah sebelum jam malam tiba, tentang antrian panjang demi mendapatkan ijin kerja, kunjungan atau perjalanan, tentang ujung senapan tentara Israel yang siap menghancurkan kepala siapapun, tentang kepedihannya atas negeri tercintanya yang telah dirampas paksa.

Pun dengan sinisnya penulis yang juga direktur RIWAQ—Pusat Konservasi Arsitektur di Ramallah--menyindir bagaimana orang Palestina membutuhkan puluhan tahun untuk mendapatkan hawiyyeh (kartu penduduk) sedangkan seekor anjing bisa memperoleh paspor hanya dalam sehari demi mendapatkan suntikan vaksin rabies.

“Tidak, tembok bodoh ini tidak ada kaitannya dengan keamanan Israel. Perhatikanlah. Tembok ini tidak memisahkan orang Palestina dan Israel, malah justru memisahkan orang Palestina dan negeri Palestina…..Ini adalah perampasan tanah dan air terbesar dalam sejarah Israel. Sementara mengklaim untuk memisahkan diri dari kami, mereka telah mengambil tanah kami hingga 55%. Kalian menyebut ini keamanan?” Aku sadar sedang meneriaki Bob Simon. Aku rasa dia menyesal telah memilih seorang perempuan setengah baya yang sudah menopause untuk berbicara soal “Pemisahan” [hal 139]

Judul Buku : Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon
Penulis: Suad Amiry
Alih Bahasa: James Dumai
Penerbit: e-Nusantara
Terbit: Pertama, September 2008
Tebal Buku: 144 halaman
ISBN: 9791583692
Harga: Rp. 35.000 [sebelum diskon 15%]
Readmore → Palestina Dalam Cengkraman Ariel Sharon
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design