Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Saturday, December 16, 2017

Aminah, Permata Padang Pasir



KETEGARAN PEREMPUAN, SANG PERMATA PADANG PASIR

“Perempuan yang baik, suci, dan saleh adalah sandaran sepanjang masa, dan kekuatan dalam menghadapi perjalanan waktu.” ~h.10

Ibunda Rasulullah saw. termasuk sosok yang jarang dibahas atau dikisahkan dalam satu buku penuh, dan lebih sering diceritakan figurnya bersama dalam sirah Rasulullah saw. Sehingga, kehadiran buku ini di pasaran bisa menjadi tambahan bacaan tentang sosok Aminah ra. Bab-bab awal dituturkan tentang masa kecil Aminah yang sudah memiliki kepribadian memukau di kalangan Bani Zuhrah hingga perjodohannya dengan Abdullah, sosok ayah Rasulullah saw, yang juga dibahas sedikit terutama terkait kisah penebusan dirinya.

Kisah Ibunda Aminah kental dengan sifat sabarnya  dalam menghadapi ujian. Perpisahan dengan suami, Abdullah, yang terjadi selang beberapa bulan setelah menikah menjadi awal ujian ketegaran Aminah dalam buku ini. Berlanjut, perpisahan dengan sang putranya, Muhammad, yang dipersusui oleh Halimah Sa'adiyyah, hingga usia sapih. Kesabaran dan ketegaran menjadi kekuatan kisah si Permata Padang Pasir.

Saat ini penulisan biografi dengan gaya novel sedang naik daun. Jenis bacaan non fiksi – biografi yang dulunya terasa kaku menjadi lebih luwes dan menyenangkan, dengan sentuhan-sentuhan fiksi di dalamnya. Seperti juga, buku biografi Aminah, Permata Padang Pasir terbitan @bukurepublika. Novel biografi Aminah, ibunda Rasulullah saw. juga ada selipan-selipan fiksi untuk digunakan supaya pembaca lebih dapat merasakan perjalanan kehidupan tokoh.

Dalam buku ini sosok Aminah sebenarnya ingin digambarkan senatural mungkin, perasaan, ketegaran, dan kesedihannya, tapi menurut saya, masih terasa ada kekakuan dalam bahasanya, entah karena penerjemahannya atau memang dari sang penulis. Jika sedikit membandingkan dengan novel Sibel Eraslan yang juga banyak mengambil sosok perempuan di sekitar Rasulullah, gaya bercerita Abdul Salam Al-Asyri tidak terlalu meresap dan membuat pembaca merasakan perasaaan Aminah. Meski begitu, novel biografi ini masih layak untuk dijadikan bacaan untuk lebih mengenal sosok yang sarat dengan kemuliaan, Bunda Aminah ra.

Judul: Aminah, Permata Padang Pasir | Penulis: Abdul Salam Al-Asyri | Penerjemah: Syahruddin El Fikri | Penerbit: Republika | Terbit: Pertama, April 2017 | Tebal: 159 hlm | Harga: Rp. 52.000 | Bintang: 2/5
Readmore → Aminah, Permata Padang Pasir

Monday, September 25, 2017

Ummu Salamah


“Di antara keutamaan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mereka lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” ~ h.19

Berpredikat Ummahatul Mukminin, ibu kaum muslimin, pastilah tidak disematkan kepada sembarang orang. ‘Gelar’ tersebut diberikan pada seluruh istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para perempuan yang telah teruji keimanannya, salah satunya peristiwa saat para istri meminta tambahan nafkah. Peristiwa yang sempat menyebabkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjauhi mereka selama sebulan.

Lalu, pilihan pun disodorkan antara gelimang kehidupan dunia atau kesabaran atas kondisi yang sempit dan dengannya mereka berhak mendapatkan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi pilihan seluruh istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ummu Salamah adalah salah satu istri Rasulullah Shallalluhu Alaihi wa Salam yang dinikahi dengan tujuan, salah satunya, demi memenuhi hak suaminya Abu Salamah Radhiyallahu Anha yang telah mengorbankan dirinya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala ~h. 30. Ummu Salamah merupakan salah satu perawi hadist yang meriwayatkan langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Selain itu, juga membantu untuk menyampaikan ilmu dan hikmah kepada kaum muslimah di masanya, peran yang juga dilakukan oleh istri-istri yang lain.

Sirah Ummu Salamah dibagi menjadi tiga bagian, sebelum dan sesudah menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta setelah wafatnya Rasulullah. Pada bagian pertama disampaikan bagaimana perjuangan Ummu Salamah dan keluarga, yang termasuk pemeluk agama Islam pertama, menghadapi ujian bertubi-tubi dari kaum Quraisy. Beliau juga termasuk kaum yang hijrah ke Habasyah sehingga beberapa riwayat kejadian di Habasyah merujuk kepada Ummu Salamah radiyallahu anha.

Salah satu keistimewaan Ummu Salamah adalah dihilangkannya rasa cemburu dalam dirinya, disebabkan perkara yang memberatkan beliau ketika dipinang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga, Ummu Salamah sering dijadikan tempat curhat istri-istri yang lain. Tak sekadar melihat profil Ummu Salamah, dalam sirah ini pembaca juga akan diperlihatkan bagaimana prilaku dan cara pandang Rasulullah pada perempuan, juga sedikit interaksi antar istri Rasulullah, terutama Aisyah radhiyallahu anha.

“Ummu Salamah Radhiyallahu Anha selama hidupnya selalu mengikuti kegiatan dakwah Islam. Adakalanya bersama Nabi dalam kapasitasnya sebagai penanya dan peminta penjelasan mengenai berbagai persoalan agama. Dan ada kalanya sebagai perantara antara kaum perempuan dengan Rasulullah … “ ~ h.137

Kebijaksanaan Ummu Salamah yang terkenal adalah saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta pendapatnya terkait keengganan para sahabat menuruti perintahnya setelah ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy. Memperlihatkan kecerdasan dan cepat tanggapnya Ummu Salamah menilai suatu peristiwa, satu dari sepuluh Keutamaan Ummu Salamah yang disampaikan oleh penulis.

Perjuangan Dakwah Ummu Salamah setelah Rasulullah Meninggal menjadi judul bab terakhir tentang Ummu Salamah. Beliau tetap menyampaikan dan dijadikan rujukan para sahabat saat ada problematika. Sirah ini sangat bermanfaat mengingat minimnya profil istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waa Sallah, selain Khadijah dan Aisyah, yang dibahas secara personal dan mendalam. Selain itu, juga layak karena mencantumkan riwayat-riwayat terkait Ummu Salamah, baik yang kuat maupun lemah, untuk dijadikan pengetahuan

Ummu Salamah | DR. Hishah Abdul Karim | Pustaka Al Kautsar | Pertama, April 2010 ; 294 hlm | 4/5 bintang

Readmore → Ummu Salamah

Wednesday, September 28, 2016

Legenda 4 Umara Besar

Penulis: Indra Gunawan, Lc
Penerbit: Quanta
Cetakan: 2014
Tebal: 262 hlm
Harga: Rp. 49.800 (Diskon di Toko Buku Online)
Bintang: 3.5/5


“Sungguh miris, jika ternyata orang non-Muslim lebih paham sejarah kegemilangan Muslimin daripada orang-orang Islam sendiri. Padahal, sepertiga Al-Qur’an berisi tentang kisah-kisah, mengajarkan kita bahwa belajar sejarah merupakan cara efektif mengambil pelajaran, membangkitkan kesadaran.” (h. 111)

Legenda 4 Umara Besar. Saat melihat nama-nama di bagian sampul buku, hanya satu nama yang sangat familiar di kepalaku, yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi. Jadi, melihat nama-nama lain diberi ‘gelar’ umara besar oleh buku ini, saya penasaran dengan sosok-sosoknya. Selain Shalahuddin Al-Ayyubi, profil yang ingin dituangkan adalah Muawiyah bin Abu Sufyan, Abu Ja’far al-Manshur, dan Abdul Hamid II, nama-nama yang hanya saya kenal sepintas.

Dibuka dengan nama Muawiyah bin Abu Sufyan. Nama Abu Sufyan lebih saya kenal, dari pada Muawiyah karena memang lebih sering membaca sejarah awal Rasulullah dibandingkan dengan sejarah tokoh lainnya. Meski ayah Muawiyah adalah pembangkang di awal dakwah Rasulullah, tapi hijrahnya Abu Sufyan bersama keluarganya, berperan dalam perjuangan Islam di kemudian hari. Muawiyah sendiri dipilih oleh Rasulullah sebagai sekretaris, sekaligus salah satu penulis wahyu.

Muawiyah menjadi pemimpin sejak berdirinya dinasti Ummayah. Meski mendapat hujatan karena menentang khalifah Ali bin Abi Thalib, pemerintahan di eranya mampu meredakan sengketa dalam tubuh pemeluk Islam yang pada masa itu sedang panas. “Terbukti, umat yang tadinya tercabik-cabik kini kembali bersatu. Tak ada lagi pertempuran besar antar-Muslimin.” (h.30) Menurut penulis, meski sosok Muawiyah memiliki kekurangan seperti kehidupannya yang bergelimang harta, tapi banyak sekali sumber sejarah yang menyudutkan Muawiyah tanpa melihat lebih dalam pada masalah terjadi.

Sosoknya diceritakan sejak masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, saat pendirian dinasti Ummayah, Konflik dengan Ali bin Abu Thalib, hingga bagaimana Muawiyah menenangkan kembali kondisi umat Islam. Pada bab ini juga dijelaskan tentang alasan perpecahan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, yang luar biasanya tidak membuat keduanya saling membenci.

Berlanjut ke masa Dinasti Abbasiyah, dengan sosok Abu Ja’far Al-Manshur. Figur ini dipenuhi dengan intrik, pembunuhan dan penjegalan pihak pesaing, termasuk oleh Al-Manshur yang juga memilih membunuh pesaingnya untuk meraih kursi kekuasaan. Jadi apa yang membuatnya layak untuk disebut Umara besar?

Penulis menuliskan, “Prinsipnya yang anti berleha-leha berbanding lurus dengan amalnya sepanjang 22 tahun bertakhta. Tahun demi tahun, pembangunan dan penyejahteraan rakyat digalakkan. Kemajuan ilmu pengetahuan disokong besar-besaran.” (h.66) “Al-Manshur lebih berani merombak dan membongkar pasang sistem demi tercapainya pemerintahan yang ideal.” (h.90)
Pada profil Al-Manshur, dijelaskan juga bagaimana pergerakan Syiah pada era Abbasiyah. Menurutku pada bab ini, ada bagian yang membingungkan yaitu alur maju-mundurnya sulit diprediksi. Jadi, harus berpegang pada tahun dan peristiwa yang selalu ditampilkan di setiap bab profil tokoh.

Selanjutnya, Shalahuddin Al-Ayyubi, adalah bagian terpanjang dari empat umara yang dikisahkan dalam buku ini. Karena menceritakan juga era sebelum Shalahuddin unjuk diri dalam pemerintahan Dinasti Zankiyah. Shalahuddin terlibat dalam kancah pertempuran sejak usai 27 tahun, dan menjadi orang kepercayaan dan kepanjangan tangan dari Nuruddin. Banyak nama yang muncul pada bab Shalahuddin ini, dan beberapa hampir mirip, seperti nama Nuruddin dan Najmuddin, ayah Shalahuddin, jadi agak hati-hati atau terkadang perlu membaca ulang jika terasa janggal.

Konflik sejarah antara Shalahuddin dan Nuruddin dibahas dalam buku ini, meski saya kurang mengerti literatur apa yang digunakan penulis, beliau mencoba membantah beberapa tudingan buruk sejarah pada diri Shalahuddin Al-Ayyubi. Sekaligus memperlihatkan kemampuan Al-Ayyubi dalam mengelola pemerintahan.

Abdul Hamid II, profilnya termasuk yang baru karena hidup pada abad ke-19, bisa dibilang, saya paling terkesan dengan beliau, karena keberaniannya menentang pihak asing dan kaum Zionist, isu yang sampai saat ini masih melekat dalam sejarah Islam. “Namanya ditulis dengan tinta merah di buku-buku sejarah hanya gara-gara pembangkangannya pada konspirasi zionisme. Kaum Yahudi yang menguasai media massa dan informasi dunia mendeskriditkannya sebagai pemimpin haus darah karena tidak mengizinkan berdirinya Negara Israel di Palestina.” (h. 217)

Abdul Hamid harus berjuang, tak hanya berhadapan dengan pihak asing tapi juga pemerintahannya sendiri yang mendewakan konstitusi. Beliau harus maju-mundur dengan konstitusi karena pertimbangan kondisi Negara. Bahkan, kejatuhannya juga dikarenakan protes dari rakyatnya sendiri, Gerakan Turki Muda, yang telah dijadikan boneka oleh kaum sekuler.

Sebenarnya saat membaca profil keempat Umara ini, pembaca juga disuguhi sejarah islam era kedinastian hingga masa sekarang. Diharapkan dari buku ini ditemukan sosok pemimpin yang memiliki karakter kuat dan ketaqwaan yang tinggi, dan belajar dari sejarah menjadi salah satu poin berharga untuk membangkitkan kearifan dalam membangun pemerintahan yang berlandaskan pada Allah swt.

“Untuk menelusuri seluk-beluk penerapan system dan hukum Islam dalam kehidupan bernegara inilah, maka sejarah perlu dipampangkan. Dalam hal ini para umara memainkan peran vitalnya mengawal karakteristik Islam sebagai penebar rahmat bagi alam.” (h.xii)
Readmore → Legenda 4 Umara Besar

Sunday, February 28, 2016

Untold Stories

Judul: Untold Stories: Kisah-Kisah yang Jarang Diungkap tentang Istri-Istri Rasulullah
Penulis: Tamam Khan
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Kaysa Media
Cetak: 2011
Tebal: 227 hlm
Bintang: 3/4
ISBN: 9791479585

Setelah membaca sejarah hidup Khadijah, keinginan untuk lebih banyak membaca sirah meningkat. Saat melihat judul dan tagline buku ini, 'Kisah-Kisah yang jarang diungkap tentang istri-istri Rasulullah', sudah pasti membuat saya penasaran. Rasulullah memang terkenal memiliki banyak istri, dan menjadi salah satu 'bahan' yang digunakan para penghina islam untuk menjatuhkan sosoknya di mata dunia.

Selama ini nama istri Rasulullah yang saya kenal adalah Khadijah, Aisyah dan Ummu Salamah karena sejarah banyak menyinggung nama mereka. Perkenalan dengan Zainab, Raihanah, Mariya, Saudah dan lainnya saya mulai dari buku Untold Stories ini. Penulis memaparkan sejarah singkat istri-istri Rasulullah dengan menggunakan referensi-referensi penulis Timur Tengah dan Barat.

Secara garis besar, sejarah singkat tentang para Ibunda Kaum Muslimin ini berisikan asal usul mereka dan penjelasan alasan Rasulullah menikahi mereka. Sebagian besar pernikahan didasari oleh alasan politik untuk mempersatukan wilayah atau bani/kelompok tertentu. Beberapa bagian dan kisah menarik untuk dicermati seperti istri-istri Rasulullah yang berasal dari kaum Yahudi dan pendapat-pendapat dari penulis terkait ketidakjelasan sejarah beberapa istri Rasulullah saw.

Selain kisah Khadijah dan perjuangan awal penyebaran Islam, penjabaran tentang pernikahan (?) Mariya juga menarik, terutama bagian yang menjelaskan latar belakang kedekatan Rasulullah dengan perempuan Kristen Koptik, dan meluas pada pembahasan tentang Kristen di era Imperium Byzantium. Selain itu, ketidakjelasan status Mariya dan sosoknya yang menjadi penyebab kecemburuan masal dari istri-istri Rasulullah, menjadikan kisah Maryam termasuk bagian yang menerbitkan rasa penasaran.

Pernikahan sekelas Rasulullah pun tak luput dari konflik. Kecemburuan sering menjadi perkara yang menciptakan suasana panas dalam rumah tangga Rasulullah. Aisyah dan Hafshah, dua istri yang tergolong belia dengan temperamen yang masih labil kerap menjadi pelopor keriuhan rumah. Ulah kedua istri belia Rasulullah ini juga pernah membuat pernikahan Rasulullah dengan Asma bin an-Nu'man gagal dan berujung pada perceraian.

Dalam literatur Islam, prosa dapat diselang-seling dengan puisi. Tapi, di dalam literatur hadis, riwayat hanya menggunakan hadis-tanpa penambahan- sehingga hal ini dapat menjelaskan mengapa hanya ada sedikit puisi modern tentang Para Ibunda Orang Mukminin. Secara tradisional, seorang penulis muslim cenderung tidak membahas bagaimana perasaan Khadijah seperti yang telah kulakukan. (Bab Pendahuluan)

Oleh sebab kutipan di atas, penulis menyelipkan puisi dalam setiap sirah untuk menyampaikan perasaan yang melanda setiap sosok yang sedang diceritakan. Meski begitu, penulis tetap memperhatikan referensi ilmiah supaya tidak terlalu menyimpang dari kebenaran. Untold Stories ini menarik untuk dijadikan pengantar memperkenalkan istri-istri Rasulullah meski masih banyak tanda-tanya mengingat keminiman saya dalam membaca sirah.
Readmore → Untold Stories

Monday, November 02, 2015

Khadijah by Sibel Eraslan

Khadijah yang ditulis Sibel Eraslan adalah bacaan pertama kali saya yang khusus mengangkat sirah istri pertama Rasulullah ini. Sejauh ini, saya mengetahui potongan-potongan perjalanan hidup Bunda Khadijah dari sirah nabawiyah atau esai berkaitan dengan keteladanan beliau.


Pembuka buku ini langsung memperlihatkan gaya bahasa seperti apa yang akan digunakan penulis dalam berkisah. Penggambaran latar, sosok dan perasaan Khadijah disampaikan dengan kata-kata romantis, penuh syair dan lembut, terasa seperti membaca dongeng tapi dengan kisah yang nyata.

Meski terkadang terasa bertele-tele, terutama bagi saya yang lebih menyukai bahasa lugas, sosok Bunda Khadijah digambarkan dengan natural, ada saat lelah, sedih, bahagia, pasrah, tangguh, menangis. Tapi, tidak dipungkiri, penggunaan bahasa yang lembut ini, bisa membuat pembaca lebih merasakan kehebatan sosoknya dalam mendukung perjuangan Rasulullah. Sosok yang memang layak mendapatkan cinta yang begitu dalam dari Rasulullah, dan pantas menerima "salam" dari Allah SWT.

"Surga tak datang pada orang yang selalu bahagia, tapi dari perjuangan dan keteguhan iman setiap melewati segala ujian."

Meski tidak banyak, sosok Rasulullah juga disinggung dalam cerita. Sosok yang santun, banyak merenung, peduli, penuh kasih sayang, amanah, jujur dan  mengetarkan terutama bagian yang menceritakan perlakuan Bani Quraisy ketika beliau menyampaikan ajaran Islam, yaitu syahadat.

Tanda tanya yang masih membekas di kepala saya setelah membaca buku Khadijah ini adalah masalah referensi. Karena latar cerita kadang terasa detail dan menimbulkan pertanyaan, "benar seperti ini?" Semisal, penantian Khadijah yang ditemani kendi tanah liat pemberian Rasulullah. Mungkin karena saya yang belum banyak membaca buku tentang Khadijah atau saking banyaknya buku sejarah yang telah dicerna penulis sehingga kesulitan menyebutkan referensi beliau dalam menulis. Wallahu'alam. Hanya saja, berkat membaca buku ini, saya berminat mencari bacaan lain yang mengangkat sosok Khadijah.

Dan, saya masih berminat untuk membaca karya Sibel Eraslan lainnya

Judul: Khadijah
Penulis: Sibel Eraslan 
Penerjemah: Ahmad Saefudin, Hyunisa Rahmanadia, Erwin Putra 
Penerbit: KaysaMedia
Cetak: IV, 2014
Tebal: xxxii + 388 hlm
ISBN: 978-979-1479-63-9
Harga: Rp. 65.000 (Diskon di www.parcelbuku.net)
Readmore → Khadijah by Sibel Eraslan

Thursday, March 20, 2014

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam, kalimat yang disadur dari slogan Bung Karno ini, mungkin menjadi salah satu misi dari buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini memuat biografi tokoh besar yang pernah dimiliki sejarah Islam, seorang pemimpin yang menggenggam erat perkataan Rosulullah dan yakin bahwa "ramalan" tersebut akan terealisasi di tangannya.

Pendidikan Masa Kecil

Tak dipungkiri bahwa pendidikan masa kecil berpengaruh besar pada terbentuknya karakter seseorang. Sultan Mehmed II bin Murad II, yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih mendapatkan pendidikan yang sarat dengan ilmu, yang berkaitan dengan fiqh, alQur'an maupun bersifat umum, seperti astronomi, matematika, bahasa, dll. Syaikh Aaq Syamsuddin menjadi salah satu pilihan Sultan Murad II untuk mendidik putranya. Syaikh Aaq bukan sembarang ulama, beliau adalah seorang polymath, ulama yang menguasai berbagai bidang dan berwawasan luas, sehingga Mehmed benar-benar mendapatkan ilmunya dari seseorang yang tepat.

Keluasan ilmu umum yang didukung dengan pemahaman agama yang kuat membentuk Mehmed menjadi karakter yang cerdas dan berakhlak. Kekaguman Mehmed kepada Rasulullah Saw tak luput dari pelajaran sirah nabawiyah yang disampaikan Syaikh Aaq. Tak dipungkiri bahwa 'obsesi' Kesultanan Utsmani dari generasi ke generasi adalah menaklukkan Konstantinopel. Sehingga, Mehmed pun tumbuh dengan obsesi tersebut, menaklukkan Konstantinopel dan menjadi sebaik-baiknya pemimpin.

Konstantinopel Harus Takluk

Keinginan yang menggebu untuk menaklukkan Konstantinopel membuat Mehmed harus memutar otak. Kekuatan benteng darat Konstantinopel yang berlapis tiga menjadi bagian tersulit untuk menembus kota. Apalagi wilayahnya yang sebagian besar di keliling laut membuat kota ini tak terembus selama berabad-abad. 

Sultan Mehmed belajar dari sejarah, yang berkaitan dengan upaya para pendahulunya untuk menaklukkan Konstantinopel, apa kekurangan yang membuat rencana mereka gagal. Sembari belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, Mehmed mengumpulkan ahli dari berbagai ilmu untuk mendukung rencananya. 

Strategi-strategi yang dilakukan Sultan Mehmed II dijelaskan cukup detail dalam buku ini, dengan dilengkapi gambar-gambar pendukung. Sayangnya, beberapa gambar agak membingungkan seperti struktur benteng konstantinopel atau peta 3D dari Konstantinopel.

Bagian yang menarik dari buku ini adalah layout. Jika sering dijumpai layout buku dengan desain yang senada pada hampir setiap lembarnya, maka Muhammad Al-Fatih 1453 memperlihatkan kekuatan layout dengan menampilkan desain yang disesuaikan dengan isi lembarannya. Dukungan layout membuat pembaca menjadi lebih bisa merasakan perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel.

Allah lah yang Terkuat
"Sesungguhnya Allah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajiban dengan pedang ini maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar Al-Ghazi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada Hari Kiamat nanti?" (h. 265)
Saat ketaqwaan, keyakinan dan komitmen menjadi kekuatan dalam diri manusia, perubahan besar dapat terjadi. Meski Sultan Mehmed memiliki pasukan yang lebih banyak dibandingkan Konstantinopel, dia tidak lantas menyombongkan diri. Pendidikan akhlak yang ditempa sejak dini menjadikannya sosok yang tetap menyandarkan kekuatannya kepada Sang Maha Kuat, Allah SWT. 

Perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel sering menemui kegagalan, tak jarang memunculkan suara sumbang yang tidak mendukung, bahkan sempat muncul benih-benih pemberontakan dalam pasukan Yaniseri. Namun kembali lagi, Sultan Mehmed meyakini akan kepastian terealisasinya "ramalan" Rasulullah, melalui pedangnya. 

Demi merobohkan benteng konstantinopel, tak sekadar inovasi senjata yang diciptakannya tapi juga peningkatan ibadahnya dan seluruh prajuritnya. Kalimat, sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan, diyakini Sultan Mehmed sebagai pengingat bahwa pemimpin dan pasukan yang dimaksud harus mendapatkan ridha-Nya. Dan ridha akan tercapai jika mereka mendekatkan diri dan melandaskan peperangan ini demi Allah semata. Pemandangan shalat berjamaah dan lingkungan yang dipenuhi dengan tilawah menjadi gambaran kondisi perkemahan pasukan Utsmani saat pengepungan Konstantinopel

Belajar dari sirah Muhammad Al Fatih, pembaca dapat memetik banyak pelajaran berharga. Mulai dari pendidikan yang tidak mengotak-kotakkan antara agama dan umum, pembekalan akhlak yang membuahkan ketaqwaan dan keimanan yang tinggi, sifat pemimpin yang selalu bijak dalam mengatasi kemelut dalam pemerintahannya, sampai pada semangat pantang menyerah demi mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah Swt. Subhanallah...

Menekuni sejarah, apalagi berkenaan dengan Islam, akan memberikan asupan semangat dan renungan yang membuat kita berpikir dan bertindak lebih baik. Maka dari itu, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam.

Judul: Muhammad AlFatih 1453
Penulis: Felix Siauw
Penyunting: Salman Iskandar
Penerbit: Al Fatih Press
Cetak: Kelima, November 2013
Tebal: xxvi + 320 hlm
ISBN: 978 602 17997 0 3
Harga: Rp. 75.000
Readmore → Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam

Monday, October 15, 2012

Sang Pemusar Gelombang


Awalnya, saya mengira buku Sang Pemusar Gelombang merupakan bacaan fiksi sejarah, yang menceritakan kembali perjalanan hidup Hasan Al Banna dengan gaya fiksi, seperti Trilogi Muhammad - Tasaro. Setelah membaca satu bab dan mulai memperhatikan sub judul buku, "Sebuah Novel yang Berpusar Pada Peri Kehidupan Syaikh Hasan Al Banna", ternyata perkiraan saya salah, meski tidak 100%. 

Mengambil nama tokoh Randy, Hasan, dan Cikal, penulis ingin menampilkan perwakilan karakter dari beberapa golongan pemuda di Indonesia. Randy, aktivis dakwah yang sangat terinspirasi oleh Hasan Al-Banna; Hasan, pemuda yang memiliki ideologi sosialis dengan kekritisan dan kepedulian tinggi terhadap  masyarakat cilik, yang juga memiliki nama mirip dengan sang tokoh revolusioner Mesir; dan Cikal, perwakilan dari anak band yang kemudian dihadapkan pada konflik batin atas kebenaran pilihannya.

Hasan Al Banna
Terungkapnya masa lalu yang menimpa sang ayah, menumbuhkan ketertarikan dan keingintahuan Hasan pada sosok Hasan Al Banna. Perjuangan ayah Hasan menginspirasinya memulihkan keimanannya yang sempat terkubur dan mencari orang yang dapat membantunya mengenal Hasan Al Banna.

Randy Al Banna-lah yang kemudian mengantarkan Hasan ke ranah kehidupan dan pemikiran pria yang memrakarsai organisasi besar bernama Ikhwanul Muslimin.

Randy yang memiliki latar belakang keluarga yang moderat sebenarnya akan menarik jika lebih diangkat dalan cerita. Saya suka sekali diskusi Randy dengan Gilang, yang masing-masing memiliki argumentasi yang timbal-balik. Agak berbeda ketika Randy dan Hasan berdiskusi [baca: berbincang] yang lebih terasa datar, karena Hasan lebih bersifat menerima pemikiran yang disampaikan Randy.

Masih ada satu lagi tokoh, Cikal. Saya merasa sosok Cikal kurang menyatu dalam cerita. Persinggungan Cikal dengan Hasan/Randy tidak terlalu besar, bahkan terkesan "tidak terlalu penting". Maksud penulis ingin menyelipkan fenomena generasi muda saat ini yang kebanyakan keranjingan untuk menjadi selebritis, mungkin menarik. Tapi, tokoh Cikal jadi kurang masuk dengan tema utama novel ini, yaitu Hasan Al Banna. Kecuali, jika kemudian ternyata Sang Pemusar Gelombang memiliki sekuel yang akan menjelaskan keterkaitan lebih dalam antara ketiga tokoh tersebut, sepertinya bisa dimaklumi. Sepertinya begitu, melihat masih banyak konflik yang menggantung hingga akhir cerita.

Judul: Sang Pemusar Gelombang
Penulis: M. Irfan Hidayatullah
Penyunting: Feri M. Syukur & Topik Mulyana
Penerbit: Salamadani
Cetak: Pertama, 2012
Tebal: xviii + 502 hlm
Bintang: 3/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Sang Pemusar Gelombang
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design