Showing posts with label fiksi psikologis. Show all posts
Showing posts with label fiksi psikologis. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

My Avilla


Love in The Rainy Days, adalah novel Ifa Avianty pertama yang saya baca. Dari kedua novel ini, saya menangkap kepiawaian penulis untuk menciptakan suasana romantis dan mengolah alur yang bisa mempengaruhi emosi pembaca. Lihat saja, bagaimana penulis mengajak pembaca merasakan kegelisahan Margriet, seorang muslimah yang harus mati-matian menata hatinya saat terserang virus merah jambu. Hei, muslimah juga manusia kan! 

Fajar yang lebih muda empat tahun dan teman adiknya, Trudy, membuat hati Margriet kebat-kebit, saat mendapatkan pernyataan cinta darinya. Tapi, keresahan Fajar atas pencarian Tuhan membuat Margriet tidak dapat menerimanya. Waktu berlalu, mengiringi kegundahan Margriet dan pencarian Fajar dengan rasa yang masih terselip di masing-masing hati. Namun, perjumpaan Margriet dengan Phil, yang menyelipkan canda, memberinya kehidupan dan senyum yang baru.
Kini aku baru tahu bahwa cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan ~ h. 15
Saya sempat salah sangka, saat membaca sinopsis novel My Avilla yang lebih condong ke tokoh Trudy. Perkiraan awalku, kisah akan lebih banyak mengangkat proses tokoh Trudy yang berusaha menemukan hakikat cinta dan keikhlasan sang kakak, ternyata bukan. Peran Trudy dalam novel ini sebagai adik Margriet yang merasa tersisihkan oleh sang kakak. Berkebalikan dengan sifat Margriet, Trudy adalah sosok hedon yang menyukai duniawi. Konflik kakak-beradik semakin memuncak saat Trudy menyadari pria yang dicintainya, Fajar, malah menyimpan perasaan pada kakaknya.

Pencarian Tuhan menjadi salah satu konflik dalam alur cerita My Avilla. Fajar dan Phil adalah tokoh yang diselimuti kegelisahan dalam mencari keimanan. Meski menurut saya pembahasan tentang pencarian Tuhan diantara mereka tidak terlalu berat, banyak pemikiran yang menyentuh. Berpikir dan memahami agama membuat manusia semakin menyadari betapa kita sangat membutuhkanNya.
Bagi saya, jika sebuah agama bisa meng-endorse umatnya untuk berpikir lebih dalam dan logis, bukan melulu dogma-dogma, maka itulah agama yang 'benar' bagi umat tersebut ~ h.131
Sayangnya, konflik yang menarik dan alur yang menyentuh tidak didukung dengan kekuatan karakter tokoh. Penuturan cerita dari sudut pandang para tokoh disampaikan dengan gaya yang hampir sama. Tidak terlihat ciri khas dari masing-masing tokoh, bahkan Margriet yang kalem dan Trudy yang blak-blakan tidak terlalu tampak perbedaannya saat dijadikan sudut pandang cerita. 

Untuk akhir cerita, ada bagian yang terasa 'disia-siakan', yaitu konflik Margriet dan Fajar. Agak sayang jika kisah tersebut diceritakan dengan narasi yang sepertinya 'seadanya', karena jika kebersamaan Margriet dan Fajar digali dan dikembangkan, bisa jadi My Avilla akan memiliki sekuel yang menarik. 

Judul: My Avilla
Penulis: Ifa Avianty
Penyunting Bahasa: Asri Istiqomah
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 6028277495
Cetak: 2012
Tebal: 184 hlm
Ukuran: 20 cm
Harga: Rp. 26.000
Bintang: 3/5
Readmore → My Avilla

Thursday, January 31, 2013

Galaksi Kinanthi

Cover Buku [Sumber:: Koleksi Pribadi]

Meski membaca untuk kedua kalinya, saya masih menikmati alur dan plot kisah dari Kinanthi. Berawal dari bocah ingusan yang lahir di wilayah Gunung Kidul, Kinanthi hanyalah anak dari keluarga miskin. Ibunya yang dicap sebagai perempuan baulawean karena hampir setiap pria yang dinikahinya meninggal. Sebutan itupun terlanjur melekat pada Ibu Kinanthi meski mitos tersebut tidak terjadi pada diri Mangun, Bapak Kinanthi. Menarik membaca karakter Mangun, dimana seringkali kita disuguhi, hingga menjadi stereotipe, bagaimana seorang penjudi selalu berlaku kasar pada istri dan anak-anak. Berbeda dengan Mangun, meski dia seorang tukang judi, perilakunya lembut terhadap keluarganya. Saya menikmati sekali adegan dan suasana ketika Pak Mangun bercerita pada Kinanthi cilik tentang asal muasal namanya.

Predikat sebagai anak baulawean dan tukang judi pastinya membuat masa kecil Kinanthi kelam, jika tidak ada Ajuj di sampingnya. Ajuj, bocah laki-laki yang selalu menemani dan menjaga Kinanthi saat semua orang dan teman-temannya mengolok dan menjauhinya. Sebagai anak seorang rois [semacam pemuka agama] yang terpandang, bukan tanpa halangan Ajuj berkawan dengan Kinanthi. Berulang kali bapaknya menegur dengan keras tapi tidak menggoyahkan pendirian Ajuj untuk menjaga dan menemani Kinanthi dan Hasto, adik Kinanthi.

Kehidupan Kinanthi berubah ketika beras 50 kg menjadi penukar dirinya dalam keluarga. Dengan alasan supaya Kinanthi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, dia 'dititipkan' pada saudara sepupu Bapak yang tinggal di Bandung. Kepergian Kinanthi ke Bandung menjadi permulaan hijrahnya ke berbagai tempat dan negara. Perpisahannya dengan Ajuj meninggalkan kenangan yang erat melekat dalam benak Kinanthi. Sosok Ajuj menjadi pusat semangat dan cinta setiap kali Kinanthi harus menanggung pedih segala fitnah dan siksaan. 

Sumber:: sini
Kesedihan dan penderitaan selama di Bandung, ternyata tidak sepadan dengan kehidupannya sebagai TKW di Timur Tengah. Lewat perjalanan Kinanthi di Timur Tengah, penulis menyorot kehidupan dan kondisi TKW yang bernasib tidak beruntung mendapatkan majikan yang hanya memandang mereka sebagai budak. Penyiksaan, pelecehan seksual dan perlakuan tidak manusiawi yang menjadi hal biasa dilakukan si majikan, menjadikan Kinanthi menjalani kehidupan dengan penuh tekanan. 

Sempat bangkit dan berusaha 'menikmati' profesinya, ternyata kondisi Kinanthi semakin mengerikan ketika ada sebuah keluarga yang membawanya ke Amerika. Tak disangka, keluarga tersebut menyimpan dendam dan rencana busuk sesampainya di negeri Paman Sam tersebut. Ajuj, Ajuj, Ajuj, nama yang masih tersisa dari masa lalu Kinanthi. Kekuatan kenangan itu yang tak pernah hilang dan terus mematri keteguhan gadis yang telah beranjak 16 tahun tersebut. Dari situlah penulis mengolah sisi psikologis tokohnya dengan lihai.

Tak ada penderitaan yang tanpa ujung. Penyiksaan Kinanthi yang tak kenal fisik dan batin ini membuatnya nekat kabur meski dalam kondisi mengenaskan. Hingga pertemuannya dengan keluarga Mesir yang membantunya ke pengadilan Amerika. Kebebasan Kinanthi mengubah hidupnya 180 derajat. Dia tumbuh menjadi perempuan Amerika dengan kecerdasan yang memang dimilikinya sejak kecil, bahkan menjadi penulis yang sangat diperhitungkan. Meski sudah sukses dan bertahun-tahun jauh dari tanah Jawa, Kinanthi masih terus menyimpan kerinduan dengan sosok pria kecil yang dulu selalu melindunginya.


Tasaro Gk [Sumber:: sini]

Memadukan fenomena penyiksaan TKW, benturan budaya, romantisme, pun ideologi yang menyentil wilayah sensitif yaitu agama, menjadikan Galaksi Kinanthi memiliki plot yang padat. Meski terlihat 'penuh', cara penulis menyampaikan ceritanya terasa mengalir. Alur maju mundurnya juga menjadi 'senjata' penulis untuk menunda kejutan agar muncul di saat yang tepat. Salah satu bagian yang menyentuh buatku adalah pertemuan Ajuj dan Kinanthi di tepi pantai. Perbincangan dua orang yang memiliki kedekatan masa silam tapi melewati tahun-tahun kehidupan yang jauh berbeda, terasa sekali beban, ketakutan, kecanggungan, yang sebenarnya menyimpan luapan rindu. Selain itu, saya juga suka akhir kisah Galaksi Kinanthi yang menggantung dan sukses membuat pembaca menebak-tebak siapakah lelaki yang menjadi pilihan Kinanthi.
Cover baru [kiri] [Sumber:: sini]
Buku ini diterbitkan ulang pada tahun 2012 oleh Bentang Pustaka dengan judul Kinanthi, Terlahir Kembali. Saya sendiri masih belum membaca versi yang terbaru. Hanya saja, kabarnya ada tambahan cerita dalam perjalanan hidup Kinanthi. Penasaran juga sih. Ada yang berminat minjemin atau ngasih? hehe...

Judul: Galaksi Kinanthi
Penulis: Tasaro Gk [@Tasaro_Writer]
Editor: Yani Suryani 
Penerbit: Salamadani 
Cetak: Kedua, Februari 2009  
Tebal: 432 hlm  
Bintang: 4/5  

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Galaksi Kinanthi

Saturday, October 20, 2012

Rinai


Mengambil latar tempat di Gaza adalah salah satu yang membuat saya tertarik untuk membaca buku Rinai. Ditambah, ketika mengetahui bahwa kisah Rinai terinspirasi dari perjalanan penulis ketika berada di Khan Younis, Jabaliya, Deir Al Balah, Gaza City, maka keputusan untuk mengikuti event pre-order yang diadakan Penerbit Indiva di facebook-pun dilakoni. Sempat salah sangka, saat membaca blog penulis tentang gaya penceritaan epistori, bayangan awal saya adalah cerita akan berlangsung dengan model surat-menyurat seperti Life on the Refrigerator Door-Alice Kuipers tapi dalam bentuk surat bukan pesan di pintu lemari es. Jadi, saya mengira imajinasi pembaca dibangun dari aktivitas surat menyurat yang dilakukan sepanjang cerita. Ternyata epistori baru terasa ketika menjelang akhir antara Rinai dengan tokoh anonim, Aku. Meski begitu, saya menikmati membaca perjalanan Rinai Hujan yang dibalut dengan konflik psikologis dalam dirinya.

Sinta Yudisia
Menjadi anak perempuan di keluarga penganut adat Jawa yang kental ternyata menciptakan beragam tanya akan pengorbanan yang terlihat tidak adil, salah satunya 'pemujaan buta' terhadap laki-laki dalam keluarga. Jiwa berontak Rinai semakin kencang seiring dengan bertambahnya usia, bersamaan dengan tingkah Guntur, sang kakak, yang tidak tertolerir, ditambah lagi dengan Pak de Harun yang tidak kenal malu, terus meminta bantuan uang dari saudari-saudarinya, salah satu Bunda Rafika, ibu Rinai. Tapi, seluruh keluarga seperti berusaha 'menutup mata' dan memaklumi. 

Keputusan mengambil kuliah di Surabaya, ternyata tak membuat Rinai menjadi tenang, pertanyaan pun masih menggelayutinya, apakah keputusannya adalah bentuk pemberontakan atau upaya melarikan diri dari keluarga yang menurut Rinai selalu menciptakan beban pikiran. Sosok Nora Efendi membuat Rinai kagum dengan dosennya yang tampak sebagai perempuan tangguh yang berani mengambil tindakan dan cerdas, kemudian muncul sifat membandingkan ketika bayangan Bunda Rafika hadir dengan sifatnya yang pengalah dan kerap memendam segala keluh. Dua sosok perempuan kuat dengan caranya masing-masing.

Tak berhenti di situ, mimpi Rinai yang kerap hadir di setiap malamnya dalam wujud Ular pun menambah 'perang' dalam kepalanya. Mimpi tentang ular seringkali dianggap sebagai pertanda munculnya jodoh, tapi kehadiran mimpi ini mencemaskan. Rinai mulai mempertanyakan orientasi seksualnya, menambah permasalahan yang berkemelut dalam batinnya.

Setengah buku pertama, rasanya cerita berjalan lama bagi saya. Bukan dalam taraf membosankan tapi ada rasa tidak sabar dengan ada apa saja dan apa yang bakal terjadi di Gaza. Selain, menuturkan tentang latar keluarga dan pergolakan pikiran Rinai, penulis juga memberikan wacana tentang psikologis lewat diskusi yang terjadi dalam ruang kelas atau obrolan sesama teman kuliah, santai dan mengalir, mungkin karena latar belakang pendidikan penulis yang juga psikologi.

Sepanjang perjalanan menuju Gaza, penulis menggambarkan tentang proses ketika berurusan dengan petugas; suasana Timur Tengah yang jauh berbeda dengan Indonesia; makanan khas Timur Tengah yang malah membuat rindu nasi dan sambal pedas kampung halaman; dan berbagai tempat-tempat yang dilewati sepanjang perjalanan menuju Gaza, di sanalah penulis menyajikan unsur traveling dalam cerita.

Misi kemanusiaan ke Gaza memuat konflik. Tak disangka, human relief for human welfare [HRHW] yang dibawahi Nora Efendi tak seidealis yang dibayangkan Rinai. Persepsi tentang orang dan anak-anak Gaza yang 'diciptakan' untuk sekadar menarik simpati agar kucuran dana dari donatur semakin meningkat, menyalahi nurani Rinai. Perasaan bersalah dan terkejut membuatnya mengambil tindakan "melawan". Membaca bagian ini, memberikan saya gambaran tentang organisasi yang bergerak di dunia kemanusiaan, tanpa bermaksud menggeneralisir, ketika idealisme  'kalah' dengan realitas. Meski ada dua pandangan yang berseberangan, penulis tidak memihak, latar belakang dan alasan masing-masing disampaikan seperti ketika Nora berdebat dengan Taufik.

Tidak banyak buku yang mengangkat Gaza sebagai tema atau latar tempat, padahal butuh buku-buku seperti ini untuk terus mengingatkan pada manusia, terkhusus umat muslim, bahwa ada saudara kita yang sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Tidak hanya bergaung pada waktu-waktu tertentu, tapi selama penindasan terus terjadi.

Sumber Gamber: sini

Judul: Rinai
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Gizone Books
Cetak: Pertama, 2012
Tebal: 400 hlm
Bintang: 4,5/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Rinai
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design