Showing posts with label fiksi komedi. Show all posts
Showing posts with label fiksi komedi. Show all posts

Sunday, June 16, 2013

3 Anak Badung


Generasi 90-an pasti familiar dengan seri Lupus yang sempat meledak, baik lewat buku, film, ataupun serial televisi. Duet Hilman Hariwijaya dan Boim Lebon pun melekat di hampir setiap sampul depan buku serial lupus. Memang saat itu pasar buku sedang ramai dengan buku-buku komedi, seperti Lulu, Vanya, Olga, sampai Lupus kecil. Rental buku pun, yang saat itu sedang menjamur, banyak menyediakan seri buku-buku itu, yang seringkali dalam kondisi mengenaskan karena keseringan disewa. Memasuki tahun 2000-an era lupus mulai memudar, novel komedi mulai jarang ditemui di toko buku.

Baru-baru ini sepertinya lupus kembali ingin dibangkitkan dengan kemunculan film Bangun Lagi Donk, Lupus, bersamaan dengan bukunya yang mulai beredar. Saya sendiri sampai review ini ditulis belum menonton atau membaca Lupus terbaru tersebut. Berbeda dengan kemunculan 3 Anak Badung, buku terbaru salah satu punggawa serial lupus, Boim Lebon. Saya benar-benar berniat untuk mendapatkan dan membacanya. Bisa jadi karena sinopsisnya, desain sampul yang gokil, promosi penerbitnya yang datang bertubi-tubi di timeline facebook, atau mungkin karena nama Boim Lebon yang nangkring di pojokan sampul buku. Yang pasti, 3 Anak Badung langsung saya ambil saat mampir ke salah satu toko buku favoritku.

Bercerita tentang ibu, Bunga Citra Lebay, yang 'membuang' ketiga anaknya karena kemarahannya pada suami yang pergi tanpa kabar. Mola, Rama, dan Reh, tiga anak yang dibuang kemudian hidup di Kota Yogyakarta sejak 10 tahun lalu ditinggalkan di dalam kereta api. Kehidupan sebagai anak jalanan di Malioboro tak lantas membuat mereka lupa diri dan melupakan sosok ibunya, yang biasa dipanggil Mpok Bung. Kerinduan masih kerap muncul, terutama dalam benak Rama, dengan pertanyaan masih sayangkah ibu padanya. Berbekal tabungan yang sudah dikumpulkan Mola, Rama dan Reh, mereka memutuskan berangkat ke Jakarta untuk mencari ibunya. Petualangan pun dimulai ...

Membaca novel komedi garapan Boim Lebon ini, sudah pasti mengingatkan gaya banyolan dan 'nglantur' yang pernah rame di era 90-an. Saya yang penyuka alur jelas, agak terganggu dengan ceritanya yang terkesan belok ke mana-mana. Meski begitu, cerita tetap menghibur dan sukses memancing senyuman. Selipan tebakan-tebakan yang banyak ditemui dalam setiap babnya, berhasil menghadirkan kenangan saat membaca novel komedi 'era lupus'. Tak sekadar menyajikan cerita humor, kisah 3 Anak Badung juga menunjukkan, tak selama anak jalanan itu buruk. Keinginan besar Rama untuk memperbaiki diri dengan belajar shalat pada Bang Sofwan menjadi nilai lebih petualangan 3 Anak Badung di ibu kota.

Setelah menamatkan 3 Anak Badung, rasa-rasanya masih ada bagian cerita yang menggantung. Bagaimana dengan kelanjutan masalah shabu-shabu milik si Botak dan si Gondrong? Penasaran juga, bagaimana kelanjutan nasib Mpok Bung dan anak-anaknya setelah semua harta bendanya dilalap api? Jadi, apakah 3 Anak Badung bakal ada sekuelnya?

Judul: 3 Anak Badung
Penulis: Boim Lebon
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetak: 2013
Tebal: 192 hlm
Bintang: 3/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → 3 Anak Badung

Tuesday, February 19, 2013

A Piece of Love in Korea

Cover Buku [Sumber:: Koleksi Pribadi]

Dapat tour gratis keliling Korea bakalan jadi durian jatuh bagi para penggila Korea, begitupun yang dirasakan Jun saat dirinya terpilih sebagai pemenang hadiah utama di sebuah majalah. Penggemar berat Jang Geum dan Dong Yi ini benar-benar kegirangan karena momen tour bertepatan dengan deadline pencarian jodohnya. Hah? Iya, Jun mendapat ultimatum dari Bunda dan keempat saudara perempuannya untuk segera mencari istri. Usianya yang semakin bertambah dan statusnya sebagai jomblo mulai merisaukan keluarganya. Apalagi adiknya, Billa, yang sedang dilamar lelaki, bersikeras tidak mau menikah sebelum kakak laki-laki satu-satunya ini beranjak ke pelaminan.

Bukan karena tidak ingin memiliki istri, Jun adalah sosok pemalu jika berhadapan dengan lawan jenisnya, meski dalam keluarga dia dikelilingi oleh perempuan. Selain itu, Jun memiliki cinta masa lalu yang terus mengendap dalam hatinya tapi tak mungkin diraihnya. Kedatangannya ke Korea, yang juga dalam rangka pelarian, ternyata tidak semulus dugaannya, musibah langsung datang sejak hari pertama. Kemunculan Erin yang membantunya selama di Korea terasa menjadi berkah sekaligus bencana bagi Jun. Pergolakan batin pun memenuhi benak Jun, di samping kegirangannya bisa berkeliling Korea.

Awalnya alur cerita tergolong ringan, memuat unsur komedi dan cukup membuat saya senyam-senyum, tapi semakin ke belakang konfliknya menjadi agak "berat" dengan problem Jun. Saya merasanya perasaan yang melanda Jun di awal dan akhir cerita jadi agak jomplang. Dilema cinta dalam diri Jun di awal-awal cerita tidak mengena karena banyaknya 'backsound' canda. Akibatnya, perasaan sedih Jun seperti bukan sesuatu yang penting. Sedangkan, jelang akhir cerita suasananya benar-benar sedih.

Sisi menarik dari A Piece of Love in Korea ini, adalah perjalanan Jun ke Korea yang cukup bisa memberikan gambaran tentang tempat-tempat yang sering menjadi sasaran para turis. Selipan tentang pergaulan antar lawan jenis juga tidak terlalu menggurui karena tokohnya yang masih labil dalam menghadapi bisikan nurani dan nafsu. Selain itu, akhir ceritanya juga di luar dugaan.

Judul: A Piece of Love in Korea
Penulis: Deasylawati P.
Penyunting: Puteri Arfan Al- Ahmady
Penerbit: Afra Novela
Cetak: Pertama, Maret 2012
Tebal: 288 hlm
Bintang: 3/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → A Piece of Love in Korea
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design