Follow by Email

Wednesday, March 26, 2014

Pejuang Subuh Meraih Ridho-Nya

"Setiap Perintah ibadah yang diwajibkan Allah sejatinya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri." [h. 15]
Subuh, adalah sholat dengan jumlah rakaat tersedikit, tapi kerap menjadi yang terberat dilaksanakan. Buaian selimut dan empuknya bantal menjadi ujian berat bagi seseorang setiap kali adzan subuh berkumandang saat langit masih gelap. Asholattu khoirun minan naum ... Sholat lebih baik daripada tidur. Namun, janji Allah pun tak kalah luar biasa bagi hamba-Nya yang berhasil mengalahkan segala godaan subuh. Keselamatan, surga, rezeki, pertolongan dan masih banyak jaminan dari Allah yang terurai dalam hadist dan ayat Al-Qur'an menjadi keistimewaan Subuh.

Waduh, bangun aja susah, apalagi disuruh berjamaah! 

Lagi-lagi untuk mendapatkan segala keistimewaan shalat, seorang hamba harus benar-benar diuji. Padahal ketika kaki mulai melangkah ke masjid, tak hanya rahmat Allah yang mengikuti, tetapi juga ada dampak kesehatan yang dipaparkan dengan jelas dalam bab fakta ilmiah shalat subuh. Kenikmatan shalat subuh itulah yang ingin ditunjukkan dan ditularkan @pejuangsubuh dengan mengajak para follower-nya membuat target.

Target yang dibuat itulah kemudian mengarahkan pelaksananya untuk menciptakan habits shalat subuh di awal waktu. Mudah? Tidak juga, terlihat dari kisah-kisah nyata orang yang berusaha untuk istiqomah mengerjakan shalat subuh. Tak sekadar bercerita tentang perjuangan untuk bangun subuh, tapi juga memperlihatkan kekuasaan Allah yang indah. Cahaya hidayah, perlindungan, kenikmatan, menjadi buah-buah kepayahan pejuang subuh untuk meraih ridho-Nya melalui waktu subuh.

Judul: Pejuang Subuh
Penulis: @pejuangsubuh
Penyunting: Seno Teguh Pribadi
Penerbit: WahyuQalbu
Cetak: Pertama, 2013
Tebal: xxviii + 208 hlm
ISBN: 979-795-774-8
Harga: Rp. 47.000
Readmore → Pejuang Subuh Meraih Ridho-Nya

Thursday, March 20, 2014

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam, kalimat yang disadur dari slogan Bung Karno ini, mungkin menjadi salah satu misi dari buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini memuat biografi tokoh besar yang pernah dimiliki sejarah Islam, seorang pemimpin yang menggenggam erat perkataan Rosulullah dan yakin bahwa "ramalan" tersebut akan terealisasi di tangannya.

Pendidikan Masa Kecil

Tak dipungkiri bahwa pendidikan masa kecil berpengaruh besar pada terbentuknya karakter seseorang. Sultan Mehmed II bin Murad II, yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih mendapatkan pendidikan yang sarat dengan ilmu, yang berkaitan dengan fiqh, alQur'an maupun bersifat umum, seperti astronomi, matematika, bahasa, dll. Syaikh Aaq Syamsuddin menjadi salah satu pilihan Sultan Murad II untuk mendidik putranya. Syaikh Aaq bukan sembarang ulama, beliau adalah seorang polymath, ulama yang menguasai berbagai bidang dan berwawasan luas, sehingga Mehmed benar-benar mendapatkan ilmunya dari seseorang yang tepat.

Keluasan ilmu umum yang didukung dengan pemahaman agama yang kuat membentuk Mehmed menjadi karakter yang cerdas dan berakhlak. Kekaguman Mehmed kepada Rasulullah Saw tak luput dari pelajaran sirah nabawiyah yang disampaikan Syaikh Aaq. Tak dipungkiri bahwa 'obsesi' Kesultanan Utsmani dari generasi ke generasi adalah menaklukkan Konstantinopel. Sehingga, Mehmed pun tumbuh dengan obsesi tersebut, menaklukkan Konstantinopel dan menjadi sebaik-baiknya pemimpin.

Konstantinopel Harus Takluk

Keinginan yang menggebu untuk menaklukkan Konstantinopel membuat Mehmed harus memutar otak. Kekuatan benteng darat Konstantinopel yang berlapis tiga menjadi bagian tersulit untuk menembus kota. Apalagi wilayahnya yang sebagian besar di keliling laut membuat kota ini tak terembus selama berabad-abad. 

Sultan Mehmed belajar dari sejarah, yang berkaitan dengan upaya para pendahulunya untuk menaklukkan Konstantinopel, apa kekurangan yang membuat rencana mereka gagal. Sembari belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, Mehmed mengumpulkan ahli dari berbagai ilmu untuk mendukung rencananya. 

Strategi-strategi yang dilakukan Sultan Mehmed II dijelaskan cukup detail dalam buku ini, dengan dilengkapi gambar-gambar pendukung. Sayangnya, beberapa gambar agak membingungkan seperti struktur benteng konstantinopel atau peta 3D dari Konstantinopel.

Bagian yang menarik dari buku ini adalah layout. Jika sering dijumpai layout buku dengan desain yang senada pada hampir setiap lembarnya, maka Muhammad Al-Fatih 1453 memperlihatkan kekuatan layout dengan menampilkan desain yang disesuaikan dengan isi lembarannya. Dukungan layout membuat pembaca menjadi lebih bisa merasakan perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel.

Allah lah yang Terkuat
"Sesungguhnya Allah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajiban dengan pedang ini maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar Al-Ghazi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada Hari Kiamat nanti?" (h. 265)
Saat ketaqwaan, keyakinan dan komitmen menjadi kekuatan dalam diri manusia, perubahan besar dapat terjadi. Meski Sultan Mehmed memiliki pasukan yang lebih banyak dibandingkan Konstantinopel, dia tidak lantas menyombongkan diri. Pendidikan akhlak yang ditempa sejak dini menjadikannya sosok yang tetap menyandarkan kekuatannya kepada Sang Maha Kuat, Allah SWT. 

Perjuangan Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel sering menemui kegagalan, tak jarang memunculkan suara sumbang yang tidak mendukung, bahkan sempat muncul benih-benih pemberontakan dalam pasukan Yaniseri. Namun kembali lagi, Sultan Mehmed meyakini akan kepastian terealisasinya "ramalan" Rasulullah, melalui pedangnya. 

Demi merobohkan benteng konstantinopel, tak sekadar inovasi senjata yang diciptakannya tapi juga peningkatan ibadahnya dan seluruh prajuritnya. Kalimat, sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan, diyakini Sultan Mehmed sebagai pengingat bahwa pemimpin dan pasukan yang dimaksud harus mendapatkan ridha-Nya. Dan ridha akan tercapai jika mereka mendekatkan diri dan melandaskan peperangan ini demi Allah semata. Pemandangan shalat berjamaah dan lingkungan yang dipenuhi dengan tilawah menjadi gambaran kondisi perkemahan pasukan Utsmani saat pengepungan Konstantinopel

Belajar dari sirah Muhammad Al Fatih, pembaca dapat memetik banyak pelajaran berharga. Mulai dari pendidikan yang tidak mengotak-kotakkan antara agama dan umum, pembekalan akhlak yang membuahkan ketaqwaan dan keimanan yang tinggi, sifat pemimpin yang selalu bijak dalam mengatasi kemelut dalam pemerintahannya, sampai pada semangat pantang menyerah demi mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah Swt. Subhanallah...

Menekuni sejarah, apalagi berkenaan dengan Islam, akan memberikan asupan semangat dan renungan yang membuat kita berpikir dan bertindak lebih baik. Maka dari itu, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam.

Judul: Muhammad AlFatih 1453
Penulis: Felix Siauw
Penyunting: Salman Iskandar
Penerbit: Al Fatih Press
Cetak: Kelima, November 2013
Tebal: xxvi + 320 hlm
ISBN: 978 602 17997 0 3
Harga: Rp. 75.000
Readmore → Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design